Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ketika Tindakan Buruk di Medsos Dimaklumi dan Dianggap Normal Netizen

📅 Sabtu, 23 Sep 2023, 13:23 WIB | Oleh: Tim Penulis

Di Hollywood, ada keluarga Kardashian yang memiliki akun instagram khusus bagi anak-anak mereka-padahal masih di bawah umur.

Di Indonesia, keluarga selebriti Baim Wong dan Paula Verhoeven membuat akun Instagram untuk anak-anak mereka. Keduanya membagikan foto-foto anak-anaknya yang masih berusia di bawah 5 tahun. Secara tidak langsung, aksi mereka membuka peluang agar sang anak bisa 'menarik' endorsement dan memberikan tambahan pemasukan.

Mereka sebagai orang tua memang punya hak penuh untuk melakukannya terhadap anak-anak mereka. Namun, perlu diingat, penelitian menunjukkan upaya menjadikan anak sebagai kidfluencer, dalam arti tertentu, cenderung dekat dengan tindakan eksploitasi anak.

Sayangnya, banyak warganet yang menganggap itu hal biasa saja. Padahal pembiaran ini bisa berujung pada terjadinya kekerasan simbolik yang bisa merugikan orang lain maupun kelompok.

Pembiaran terhadap kekerasan simbolik

Kekerasan simbolik adalah pemaksaan suatu makna, logika, dan keyakinan-yang secara halus dan samar mengandung bias-oleh satu pihak kepada pihak lainnya. Kadang kala tujuannya untuk mendapatkan pengakuan.

Kekerasan simbolik sulit dikenali, karena berlangsung secara "tersembunyi" di balik keyakinan seseorang atau kelompok tertentu bahwa "seharusnya memang demikian".

Kekerasan simbolik terjadi melalui simbol-simbol dalam bentuk bahasa, biasanya di media, yang dapat memengaruhi cara bekerja, berpikir, dan bertindak seseorang.

Media sosial telah menjadi ruang untuk menyebarkan kekerasan simbolik. Pasalnya, interaksi orang-orang di media sosial berlangsung melalui kontrol atas bahasa dan simbol-simbol komunikasi.

Contohnya adalah flexing (pamer kekayaan di media sosial). Memang, setiap individu berhak mengunggah gaya hidup mereka-bahkan yang mewah dan secara terus-menerus. Tindakan ini menjadi kekerasan simbolik ketika dapat memengaruhi orang lain bahwa barang mewah tersebut layak dimiliki, demi pengakuan sosial, padahal sebenarnya tidak perlu.

Individu lain yang tidak mampu mengikuti gaya hidup mewah bisa terpengaruh lalu memaksakan diri dengan cara-cara yang di luar batas, seperti mencuri atau korupsi.

Riset menemukan bahwa kekerasan simbolik sangat memengaruhi individu secara psikologis.

Contohnya, ketika ada remaja yang terlibat dalam video asusila, kemudian warganet menyebarkan video itu dan melakukan perundungan (bullying) terhadap remaja tersebut. Dalam kasus ini, warganet menjadi pihak yang mendominasi dan memanipulasi wacana. Ini termasuk kekerasan simbolik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.