Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Harga Properti Makin Mahal, Perlukah Membeli Rumah?

📅 Sabtu, 23 Sep 2023, 11:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

"Kota kecil dapat menjadi solusi dengan tren gaya WFH dan hybrid working saat ini. Harga yang lebih terjangkau dibanding kota besar dan kualitas hidup yang lebih baik dari tingkat kualitas polusi dan kepadatan penduduk bisa menjadi keuntungan tersendiri," ujarnya.

Adinda pun sepakat dengan pendapat ini. Asal, perpindahan yang dilakukan tidak melanggar hukum dan menghormati warga lokal.

"Kita bagaimanapun kan makhluk sosial. Kalau ada pendatang dari luar, ya ada permisi-permisinya," ujar Adinda.

Harga tinggi, perlukah pemerintah turun tangan?

Pemerintah sebenarnya bukannya tak turun tangan. Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), misalnya mengalokasikan Rp 34 triliun untuk penyediaan rumah subsidi tahun ini.

Wahyu, misalnya, menyoroti bagaimana dari segi pembiayaan pemerintah telah melakukan berbagai inisiatif untuk mengurangi backlog dengan skema pendanaan seperti Fasilitas Likuiditas Perumahan (FLPP), Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), dan KPR Tabungan Perumahan Rakyat.

"Namun inisiatif ini hanya menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, sementara backlog masyarakat kelas menengah juga perlu untuk diatasi," ujar Wahyu.

Sementara, Adinda berpendapat bahwa pemerintah tak sebaiknya turun tangan mengatur harga, mengingat dinamika pasar yang sebetulnya sudah cukup baik dalam membaca sinyal. Apalagi, pemerintah punya reputasi yang buruk perihal atur-mengatur harga.

Yang perlu dilakukan pemerintah, menurutnya, adalah memastikan penegakan hukum yang kuat.

"Yang penting, pemerintah memastikan bahwa hak kepemilikan itu dihargai jangan sampai ada proses transaksi yang tidak jelas. Misalnya, tanahnya belum diurus, waktu pembebasan lahan masih bermasalah, lebih baik seperti itu," ujarnya.

Baik Adinda dan Wahyu juga menekankan bahwa pemerintah lebih baik memastikan transportasi umum terintegrasi dan mengembangkan daerah satelit agar populasi tak menumpuk di kota-kota besar.

Nah, yang terpenting, kita sebagai konsumen juga mesti peka agar tak ikut melambungkan harga. Misalnya, Wahyu menghimbau untuk membeli rumah untuk investasi (terutama spekulasi) secara makro dapat menaikkan harga rumah, sehingga makin membuat rumah menjadi tak terbeli bagi yang membutuhkan tempat tinggal. Atau, menurut Adinda, jika mendapatkan rumah susun atau hunian bersubsidi, ada baiknya memang ditempati langsung dan bukan disewakan agar tak merusak harga pasaran.The Conversation

Anggi M. Lubis, Business + Economy Editor, The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Mobil Tabrak Kerumunan Oran...

Prosesi adat kansoda'a di Wakatobi

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.