Mengandung Bahan Kimia, Sedotan Kertas dan Bambu Bisa Berbahaya bagi Manusia dan Satwa
📅 Selasa, 12 Sep 2023, 11:09 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Eater/Aardvark
Ovokeroye Abafe, University of Birmingham
Sedotan yang terbuat dari kertas dan bambu sering dipromosikan sebagai produk ramah lingkungan dibandingkan sedotan plastik. Namun, studi terbaru menemukan bahwa sedotan yang semestinya berkelanjutan ini mengandung bahan kimia yang berpotensi berbahaya, yakni zat polifluoroalkil and perfluoroalkil (Perfluoroalkyl and Polyfluoroalkyl Substances atau PFAS)-sebuah substansi kimia antiminyak dan antiair.
Zat ini, yang juga disebut sebagai forever chemicals atau bahan kimia abadi, adalah kelompok yang terdiri dari 4 ribu bahan kimia sintetis. PFAS acap digunakan untuk berbagai material penolak air dan lemak. PFAS dapat ditemukan dalam barang sehari-hari seperti panci antilengket ataupun kemasan makanan cepat saji.
PFAS dapat bertahan di suatu lingkungan hingga ribuan tahun. Paparan zat ini, dalam tingkatan tertentu, telah banyak dikaitkan dengan perburukan kesehatan manusia maupun hewan.
Tim peneliti Belgia melakukan analisis terhadap berbagai tipe sedotan yang tersedia secara komersial dan mencatat konsentrasi PFAS di 39 merek terpisah. Hasilnya, PFAS dapat ditemukan di hampir semua merek sedotan bambu ataupun kertas yang diuji. PFAS juga terdapat di sedotan plastik dan kaca, tapi tingkatnya rendah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Asam perfluorooktanoat (Perfluorooctanoic acid/PFOA) adalah PFAS yang paling banyak dideteksi di dalam sedotan. Bahan kimia ini kerap dipakai dalam proses pembuatan teflon, berfungsi menciptakan lapisan antilengket.
Padahal, pembuatan zat PFOA sudah dilarang di Uni Eropa sejak 2020 karena alasan kesehatan. Namun tetap saja, material ini dapat ditemukan di produk konsumen lama maupun daur ulang dan bertahan di suatu lingkungan.
Keberadaan PFAS dalam sedotan berbasis tanaman dapat, setidaknya sebagiannya, terjadi karena faktor kontaminasi tak sengaja dari tanaman dengan tanah tercemar PFAS. Dugaan lainnya adalah dari pemakaian kertas daur ulang berisikan PFAS dalam proses produksi sedotan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mendeteksi bahan kimia abadi
Para peneliti menggunakan dua metode dalam mendeteksi PFAS dalam sedotan. Pertama, mereka mengukur keberadaan 29 zat dari PFAS yang acap digunakan. Kemudian, mereka menghitung zat-zat tersebut dengan metode sensitif bernama liquid chromatography with tandem mass spectrometry. Mereka menemukan sebanyak 16 dari 29 PFAS dalam konsentrasi yang terdeteksi.
Proses selanjutnya adalah penyaringan untuk mendeteksi zat PFAS lainnya dalam sedotan. Tahap ini kemudian menemukan dua komponen PFAS lainnya: asam trifluoroasetat (TFA) dan trifluorometansulfonat (TFMS).
TFA ditemukan dalam lima dari delapan merek sedotan kertas dan TFMS enam dari delapan. Komponen ini ditemukan di satu merek sedotan bambu.
Karena penggunaan TFA yang masih terbatas di beberapa industri, peneliti menduga keberadaannya dalam sedotan berasal dari hidrokarbon terhalogenasi yang terpecah. Hidrokarbon ini kerap digunakan sebagai zat pelarut dalam industri, zat antara dalam sintesis, bahkan material pembersih.
Sebaliknya, sumber TFMS belum bisa dipastikan. Sejauh ini, keberadaan TFMS baru dipastikan terkait dari tempat-tempat yang terkena busa pemadam api.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!