Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kemendikbudristek: Hakteknas Momentum Pengembangan MBKM

📅 Sabtu, 12 Agu 2023, 15:57 WIB | Oleh:
Kemendikbudristek: Hakteknas Momentum Pengembangan MBKM Doc: Koran Jakarta/Muhamad Ma'rup
Ket. Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Nizam.

JAKARTA - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyebut, Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2023 sebagai momentum pengembangan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Menurutnya, dengan mempersiapkan generasi muda Indonesia menjadi talenta riset dan inovasi dapat membawa Indonesia semakin unggul di panggung global.

"Dalam empat tahun terakhir, kita memperkuat potensi tersebut melalui gerakan MBKM yang mengedepankan nilai-nilai kolaborasi dalam menciptakan inovasi," ujar Nadiem, dalam Hakteknas 2023, di Jakarta, Jumat (11/8).

Dia menjelaskan, dengan memberikan kesempatan mahasiswa belajar di luar kampus, generasi muda Indonesia lebih berani terjun ke masyarakat dan memberikan kontribusi nyata. Selain itu, sampai hari ini pihaknya terus mendukung para peneliti muda dengan program dana padanan untuk perguruan tinggi akademik, vokasi, serta SMK PK.

"Berkat program ini, telah lahir ribuan inovasi di bidang penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan Iptek yang dihasilkan dari kolaborasi lintas sektor," jelasnya.

Huluisasi Riset

Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Nizam mengatakan, pihaknya menyiapkan Rp500 miliar dana Matching Fund untuk akselerasi riset antara perguruan tinggi dan industri. Matching Fund merupakan program riset dengan skema pemadanan pendanaan dari pemerintah dengan besaran sejumlah investasi dari industri untuk perguruan tinggi.

"Tahun ini 500 miliar harapannya terserap optimal dan yang penting kita ingin lihat impaknya dalam menghilirkan dan menghulukan riset," katanya.

Dia mengatakan, sudah banyak produk inovasi dari program Matching Fund yang dipasarkan. Menurutnya, adanya Matching Fund juga penting sebagai solusi minimnya dana riset dari pemerintah.

"Makanya kita bikin Matching Fund supaya dana riset itu dua kali lipat. Dan mendorong komitmen industri untuk menjadikan perguruan tinggi jadi lab riset mereka," ucapnya.

Nizam mengungkapkan, hilirisasi merupakan proses penting dalam ekosistem riset. Meski begitu, huluisasi riset tidak kalah penting sebab di dalamnya juga membutuhkan kolaborasi perguruan tinggi dengan industri.

Dia menjelaskan, dalam proses huluisasi riset, dosen tidak melakukan penelitian sesuai dengan hobi, lalu ditawarkan ke industri. Justru baik industri maupun dosen harus membawa kebutuhan industri jadi agenda riset di perguruan tinggi.

"Itulah kenapa kita mengenal platform Kedaireka, Matching Fund, agar agendanya itu datang dari hilir ke hulu, ke tempat riset, ke tempat inovasi," tandasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

36 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Nasional
Tanggapan Istana Usai Wamen...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.