Industri Farmasi Penyumbang Besar Emisi, Bagaimana Agar Bisa Ramah Lingkungan?
📅 Kamis, 10 Agu 2023, 13:47 WIB | Oleh: Tim PenulisDengan demikian, untuk setiap obat yang diproduksi dan didistribusikan hingga sampai ke tangan konsumen, akan selalu ada limbah yang dihasilkan. Tidak hanya limbah obat, tapi juga kemasannya.
Bahan seperti aluminium foil, yang lazim digunakan dalam kemasan obat, memiliki dampak yang kurang baik terhadap lingkungan, bahkan jika dibandingkan dengan kemasan polivinilklorida (PVC) menurut sebuah studi.
Proses manufaktur kemasan aluminium foil menjadi faktor penyumbang dampak negatif kemasan ini terhadap lingkungan. Proses manufaktur aluminium menghasilkan hampir 270 juta ton emisi gas karbondioksida. Sedangkan manufaktur aluminium foil menghasilkan 3,1 kg emisi setara gas karbondioksida/kg.
Peran industri farmasi dalam atasi masalah limbah kemasan obat
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebuah riset terhadap dua puluh perusahaan farmasi global menunjukkan komitmen korporasi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca melalui sejumlah strategi.
Mereka, antara lain menggunakan kemasan produk yang dapat didaur ulang serta menggunakan e-labelling (pelabelan produk secara elektronik) untuk menurunkan limbah kemasan. Strategi ini dilakukan oleh sejumlah industri besar seperti Takeda, Astrazeneca, dan Astellas.
Sejumlah inovasi juga dilakukan untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Melalui rekayasa enzim pengurai plastik, plastik jenis polietilena tereftalat (PET) yang bisa didaur ulang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, ada juga pengembangan bahan bioplastik baru yang berpotensi digunakan sebagai bahan pengemas. Bahan-bahan seperti pati, selulosa, kitin atau kitosan (senyawa yang dapat dihasilkan oleh cangkang udang dan kepiting), xylan (turunan selulosa yang dihasilkan oleh kelompok rumput-rumputan, termasuk tebu), dan protein merupakan bahan-bahan alami yang dapat dikembangkan menjadi plastik yang lebih mudah terurai.
Sementara itu, solusi lainnya adalah dengan mendaur ulang obat. Limbah kemasan obat yang tidak digunakan dapat didaur ulang, bahkan untuk kemasan khusus seperti inhaler.
Bukan semata tanggung jawab industri farmasi
Tanggung jawab masalah yang ditimbulkan bahan kemasan obat bukan diemban oleh industri farmasi saja, melainkan seluruh pemangku kepentingan.
Distributor farmasi dapat berfungsi sebagai sentra penyimpanan obat di suatu wilayah, dan sebagai lokasi penukaran obat yang mendekati tanggal kedaluwarsa.
Sedangkan apoteker memiliki peran penting sebagai penanggung jawab dalam pengelolaan obat dan pelayanan kefarmasian. Apoteker perlu mengelola stok obat dengan tepat untuk mengurangi limbah obat yang tidak terpakai.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!