Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perilaku Vote-Selling, Ini Alasan Pemilih Rela Menjual Suara Saat Pemilu

📅 Senin, 07 Agu 2023, 12:15 WIB | Oleh: Tim Penulis

Bias rabun jauh merupakan kecenderungan alami manusia untuk lebih memilih hadiah (reward) yang bisa diperoleh saat ini, walaupun nilainya kecil, ketimbang hadiah yang lebih besar tapi hanya bisa diperoleh di masa depan. Sebagai ilustrasi, bias inilah yang menyebabkan mengapa kita lebih senang membelanjakan gaji yang baru saja kita terima untuk membeli gadget baru, ketimbang menabung untuk keperluan masa depan. Ini karena hadiah dari menabung baru bisa diperoleh atau dinikmati nanti, bukan saat ini juga.

Kerentanan manusia terhadap bias rabun jauh memungkinkan mereka tergiur untuk menerima tawaran uang yang bisa mereka dapat langsung saat ini dan menjual suaranya dalam pemilu, walaupun tidak seberapa. Lalu mereka mengabaikan kepentingannya untuk memperoleh pemerintahan yang bersih serta kebijakan-kebijakan yang adil dan menyejahterakan di masa mendatang.

Bias ini memungkinkan masyarakat menderita semacam "miopi politik" (rabun jauh dalam politik) yang menyebabkan mereka gagal melihat lebih jauh ke depan dan cenderung mengambil keputusan politik dengan visibilitas jangka pendek.

Bagaimana menghindarinya?

Pendidikan literasi politik pada masyarakat masih menjadi strategi yang wajib terus diupayakan untuk mengurangi praktik politik uang dalam jangka panjang. Pendidikan literasi juga perlu melibatkan semua elemen Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa,penyelenggara pemilu, maupun LSM. Seperti pendidikan literasi berbasis desa yang telah dilakukan oleh 34 Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta bernama Gerakan Desa Anti-Politik Uang yang memberikan sanksi sosial bagi para pelaku suap.

Pendidikan literasi politik diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan integritas politik masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan inhibitory self-control mereka.

Selain itu, perlu strategi khusus untuk terus membuat manfaat jangka panjang dari pelaksanaan pemilu yang bersih terlihat menonjol dalam setiap kampanye politik, agar masyarakat dapat menyadari secara riil manfaat yang bisa mereka peroleh jika mereka menolak politik uang. Sebab, hanya dengan begitu masyarakat dapat terbebas dari bias rabun jauh dan miopi politik yang mereka derita.

Sebuah studi eksperimen yang dilakukan oleh Allen Hicken, seorang profesor ilmu politik dari University of Michigan, di Filipina pada 2013 juga dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan strategi yang efektif dalam mendorong masyarakat menghindari perilaku vote-selling.

Eksperimen tersebut dilakukan terhadap 900 orang pemilih yang dibagi ke dalam tiga kelompok secara acak: (1) kelompok yang diminta untuk menyaksikan video pendek berisi ajakan untuk berpartisipasi dalam pemilu kemudian diminta berjanji tidak akan menerima uang untuk menjual suaranya; (2) kelompok yang diminta untuk menyaksikan video pendek kemudian diminta untuk memilih dengan hati nurani sekali pun tetap menerima uang; dan (3) kelompok yang hanya diminta untuk menyaksikan video.

Hasil eksperimen tersebut menunjukkan adanya penurunan potensi terjadinya perilaku vote-selling sebesar 11% pada responden dalam kelompok pertama. Temuan ini dapat menjadi inspirasi bahwa intervensi sederhana (seperti meminta pemilih berjanji untuk tidak menjual suara mereka dalam pemilu) dapat diterapkan sebagai strategi untuk mengurangi perilaku vote-selling dalam pemilu di Indonesia.

Pada dasarnya hampir semua strategi yang memungkinkan patut dicoba guna mengatasi persoalan klientelisme secara menyeluruh. Lebih bagus lagi jika ini dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan untuk mewujudkan pemilu yang, paling tidak, setingkat lebih bersih pada 2024 mendatang.The Conversation

Anhar Dana Putra, Dosen (Lektor), Politeknik STIA LAN Makassar

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

33 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.