BPIP: Paskibraka Garda Terdepan Pengaktualisasian Pancasila di Era Digital
📅 Rabu, 02 Agu 2023, 13:11 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa
JAKARTA - Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo mengatakan pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) sejak dibentuk di awal kemerdekaan merupakan representasi perwakilan kaum muda Indonesia dengan latar belakang beragam.
"Calon Paskibraka telah melalui seleksi ketat hingga terpilih yang terbaik dengan melibatkan stake holders dari pusat maupun daerah. Karena itulah hendaknya dapat terus berperan aktif menjadi contoh pengaktualisasian nilai Pancasila dalam kehidupan khususnya di era media sosial dan digital," kata Benny di acara Pembinaan Ideologi Pancasila dalam rangka Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan bagi Paskibraka Nasional 2023 yang digelar BPIP di Depok, Jawa Barat, Senin (31/7) .
Pakar komunikasi tersebut menyatakan, pemuda indonesia yang terpilih sebagai paskibraka harus dapat menjadikan Pancasila sebagai habituasi dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Para calon anggota Paskibraka harus dapat menjadikan Pancasila sebagai Gugus Insting yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak dan berlaku.
"Ini perlu dilakukan karena para calon anggota Paskibraka dipandang masyarakat khususnya kaum muda sebagai figur yang dibanggakan sekaligus menjadi contoh bagaimana seharusnya kaum muda mengisi masa depannya," kata Benny.
Karena itu, kata Benny, para calon anggota Paskibraka senantiasa tidak hanya menjunjung tinggi nilai Pancasila tetapi juga melakukannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga kaum muda Indonesia yang melihat role model mereka bertindak mengerti dan melaksanakan nilai-nilai yang digali dari adat budaya luhur bangsa ini. Sehingga Pancasila dan Indonesia tidak menghilang digerus zaman.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di acara yang diselenggarakan Kedeputian Pengendalian dan Evaluasi BPIP ini, Benny menyatakan, era digital, internet, dan media sosial memiliki nilai dan bagian luar biasa dalam kehidupan manusia. Keberadaannya yang tidak mengenal ruang dan waktu membuat masyarakat tak sadar makin tergantung kepada Internet.
"Masyarakat terjebak dalam hyper reality yaitu realitas yang dilebih-lebihkan akibat konten yang disajikan para influencer dan content creator yang menyajikan perilaku berlebihan terkait kemewahan, kesedihan, ataupun hal yang menantang bahaya," kata Benny.
Akibatnya, lanjut Benny, terjadi pergeseran nilai. Sekarang masyarakat lebih mementingkan popularitas, kuantitas mengenai berapa like, view, dan share yang menyebabkan terjadinya penyalahgunaan media sosial yang cenderung mengedepankan sensasi, konten nirfaedah, dan berita bohong .
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ini sejalan dengan perumpamaan Plato tentang manusia yang masuk gua besar dan meraba-raba. Kebenaran di era digital ini cenderung mengedepankan persepsi, bukan kesadaran kritis dalam mengolah informasi," lanjutnya.
Menurut Benny, saat ini setiap orang bisa menjadi berita (news), keterbukaan ruang publik di alam digital membuat siapa saja dapat menjadi sumber informasi hingga siapapun yang kreatif dan berteknologi tinggi dengan konten yang dapat mempengaruhi masyarakat, maka dialah yang paling unggul. Ruang publik direduksi menjadi alat kepentingan, bukan ruang dialektika untuk memajukan masyarakat.
"Ruang publik seharusnya menjadi ruang dialog multi-arah bukan sekadar tempat bermonolog para individualis yang tidak menghargai perasaan orang lain dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Karenanya, diharapkan anggota paskibraka tampil dalam upaya menjadikan ruang milik kita bersama ini kembali menjadi ruang terbuka yang santun, ruang nyata yang ber-Pancasila, tempat kita bisa berbagi nilai kebaikan, serta persatuan dan kesatuan yang merupakan jiwa Indonesia," papar Benny.
Benny mengatakan, calon anggota Paskibraka hendaknya bijaksana dalam bermedia sosial dengan menyaring konten yang kita punya dan dapatkan, sebelum membagikan berita tersebut dalam ruang publik media social, serta bisa mengedukasi masyarakat khususnya generasi muda tentang bagaimana bermasyarakat dan khususnya bermedia sosial. Sehingga kaum muda dapat menjadi manusia berakal dan berhati.
"Calon anggota Paskibraka hendaknya menjadi garda terdepan dalam mengubah pola pikir masyarakat dari kaum peng-iya yang sekadar robot mekanis pembagi konten apapun yang didapatkan tanpa meneliti lebih lanjut informasi yang diterima, menjadi komunitas pemutus kata yang menelaah dan menyaring konten yang diterima sebelum dibagikan ke masyarakat," paparnya.
Dalam sesi tanya jawab, peserta menanyakan tentang bagaimana menghadapi informasi informasi bohong khususnya yang berpotensi membahayakan seperti judi atau perdagangan manusia. Benny menegaskan perlunya kecerdasan literasi dari masyarakat khususnya anggota Paskibraka dalam mengcek dan ricek setiap informasi yang diterima.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!