Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ketika Sejarah Budaya dan Tata Ruang Membentuk Gaya Bahasa Anak Jaksel

📅 Minggu, 09 Jul 2023, 11:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ketika Sejarah Budaya dan Tata Ruang Membentuk Gaya Bahasa Anak Jaksel Doc: The Conversation/SA Films/Perfini
Ket. Kebayoran Baru pada era 1950-an, sebagaimana digambarkan dalam film Tiga Dara (1956), menjadi periode penting berkembangnya pengaruh bahasa Inggris di Jakarta Selatan.

Muhammad Iqwan Sanjani, UNSW Sydney dan Mohammad Nanda Widyarta, Universitas Indonesia

Istilah "bahasa anak Jaksel" tidak asing lagi di telinga kita. Istilah ini sering diartikan sebagai gaya percampuran antara bahasa Inggris dan Indonesia yang banyak digunakan oleh anak-anak muda urban - salah satu stereotipnya adalah mereka yang tinggal di daerah Jakarta Selatan (Jaksel).

Misalnya, kita sering mendengar ungkapan-ungkapan bahasa Inggris seperti "which is" (yang merupakan), "literally" (benar-benar), hingga "basically" (pada intinya) yang dicampur ke dalam kalimat-kalimat bahasa Indonesia. Bahkan, tak jarang kata-kata tersebut begitu populer di ruang maya sehingga viral dan digunakan secara luas oleh masyarakat di penjuru negeri.

Fenomena ini pun menjadi pemicu munculnya sejumlah istilah "bahasa gaul" baru yang populer digunakan dalam komunikasi di media sosial, seperti "fear of missing out atau FOMO (takut ketinggalan berita atau tren) hingga "correct me if I'm wrong atau CMIIW (koreksi aku jika salah).

Bagi sebagian orang, gaya bahasa ala anak Jaksel ini melambangkan tingkat pendidikan dan kelas sosial yang lebih tinggi. Hal ini mungkin benar adanya, tetapi fenomena ini sebenarnya bisa dikaji lebih dalam dari perspektif sejarah, tata ruang, dan kebahasaan.

Bagaimana sejarah kebudayaan dan tata ruang Jakarta Selatan melahirkan bahasa percampuran ala anak Jaksel?

Sejarah

Sejarah subkultur ala anak Jaksel bisa dibilang mulai muncul dengan pembangunan kawasan Kebayoran Baru di Jakarta. Pada 1948, karena masalah keterbatasan akses perumahan, sebuah kawasan permukiman dibuka di wilayah Kebayoran yang dulunya dihuni penduduk asli.

Sejarawan Susan Blackburn (dulunya Susan Abeyasekere) menulis bahwa Kebayoran Baru yang awalnya dibangun untuk semua kalangan, justru berujung terisi oleh kelompok elit urban. Berbagai kantor pemerintahan dan perusahaan membeli banyak rumah untuk pegawai mereka di Kebayoran Baru sehingga wilayah itu menjadi didominasi oleh karyawan dan orang-orang yang berpendidikan dan mampu secara ekonomi.



Nasib penduduk asli wilayah tersebut yang terpinggirkan juga digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam cerpennya, Berita dari Kebayoran (1957).

Kelas sosial ini kemudian membentuk budaya urban yang baru. Ahli sejarah Indonesia asal Australia, Merle C. Ricklefs mencatat bahwa pada periode 1950-an, kaum elit urban cenderung memandang rendah kebanyakan orang yang tak berbahasa asing - terutama bahasa Belanda. Hal ini juga diamini Blackburn yang melihat bahasa sebagai pembeda kelas sosial.

Karena kurangnya rujukan, kaum elit kota melihat dunia Barat sebagai model untuk membentuk masyarakat urban. Pada 1950-an, sumber referensi tentang budaya urban Barat selain dari Eropa adalah Amerika Serikat (AS).

Selain itu, pada dekade tersebut juga berlangsung proses "de-Eropanisasi" sebagai efek dari dekolonisasi. Namun, di tengah menurunnya pengaruh Eropa, tren tersebut justru memberi peluang bagi masuknya pengaruh budaya Amerika dari berbagai lini, termasuk lewat film-film Hollywood yang amat populer.

Dalam konteks Perang Dingin, AS memang aktif mengekspor budaya populernya ke Indonesia untuk memperluas pengaruhnya. Departemen Perdagangan AS mencatat bahwa pada 1955, misalnya, negara tersebut turut serta dalam acara Djakarta Fair dan membangun sebuah paviliun. Paviliun ini populer di kalangan masyarakat karena menampilkan televisi yang masih asing untuk orang Indonesia saat itu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Nasional
Polri Gelar Upacara Serah T...
Megapolitan
Gubernur DKI Cek Pelayanan ...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.