Ketika Sejarah Budaya dan Tata Ruang Membentuk Gaya Bahasa Anak Jaksel
📅 Minggu, 09 Jul 2023, 11:30 WIB | Oleh: Tim PenulisSecara bahasa, masuknya pengaruh Amerika ini mempunyai efek lain: bahasa Inggris menjadi sebuah pembeda antara kelas-kelas sosial pada masyarakat kota. Pengaruh bahasa Inggris via AS ini pun turut mendorong perkembangan subkultur Jaksel pada masa awal, dengan munculnya sebuah istilah yang disebut "jengki".
Tata ruang
Istilah jengki yang populer pada periode 1950-an sampai 1960-an tak hanya merupakan produk budaya, tapi juga spasial.
Jengki, dari istilah "yankee" (sebutan informal untuk orang AS meski terkadang bisa bersifat ofensif tergantung konteks), merujuk pada apapun yang dianggap keren pada masa itu - banyak di antaranya merupakan bawaan budaya AS. Contohnya, celana greaser yang kerap dipakai oleh pemusik rock 'n roll disebut sebagai "celana jengki".
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada awal 1950-an, biro arsitek Job en Sprey di Cikini juga merancang rumah pegawai Bataafse Petroleum Maatschappij (BPM), anak perusahaan minyak dan gas Shell di Indonesia. Rumah-rumah yang bertempat di Jalan Martimbang, Kebayoran Baru ini berwujud khas dan modern - meski sebenarnya desainnya merupakan respons terhadap iklim tropis di Indonesia dan agar talang air terlihat rapi.
Karena wujudnya yang diasosiasikan dengan modernitas, rumah-rumah berwujud serupa disebut sebagai "rumah jengki".
Pada masa 1950-an pula, Kebayoran Baru dianggap sebagai ruang berkembangnya modernitas urban dan rumah jengki pun makin bermunculan). Fasilitas di sana dianggap lebih modern daripada di Menteng yang dikembangkan antara 1910 sampai 1918
Sebaiknya Anda baca juga:
Asosiasi daerah Kebayoran Baru dengan modernitas bisa jadi kemudian membuat kawasan permukiman ini dipilih menjadi latar film populer seperti Tiga Dara (1957).
Saat Jakarta diperluas pada pertengahan 1950-an, Kebayoran Baru menjadi bagian dari ibukota. Kebayoran Baru menjadi bagian pertama di Jakarta Selatan yang direncanakan dan tertata. Kawasan ini kemudian menjadi katalis bagi perkembangan wilayah lain di Jakarta Selatan.
Penggunaan istilah dan berkembangnya tren "jengki" secara spasial menunjukkan semakin meluasnya pengaruh bahasa Inggris, terutama Inggris Amerika, dalam keseharian warga di Jakarta Selatan pada masa itu. Penggunaan bahasa Inggris juga nampak dalam penamaan geng-geng remaja waktu itu, seperti Cross Boys dan sebagainya, seperti yang dicatat oleh Blackburn.
Tak muncul dalam ruang hampa
Pengaruh budaya AS pada 1950-an hingga 1960-an merupakan periode yang paling krusial yang membuka pintu masuk budaya AS di Indonesia pada masa-masa awal - tren yang terus berlanjut hingga periode-periode berikutnya. Hal ini tentu memberi pengaruh besar terhadap bagaimana anak Jakarta pada masa itu dan di kemudian hari berbahasa.
Meminjam kata-kata filsuf asal Prancis, Henri Lefebvre, pada akhirnya, sebuah ruang tidak muncul begitu saja, tetapi ia tercipta karena dinamika sosial.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!