Ketika Sejarah Budaya dan Tata Ruang Membentuk Gaya Bahasa Anak Jaksel
📅 Minggu, 09 Jul 2023, 11:30 WIB | Oleh: Tim PenulisSubkultur Jaksel yang populer dewasa ini lahir dari proses dan dinamika sosial kompleks yang telah berlangsung sejak kemerdekaan. Ia dibumbui dengan pergolakan politik dan kebudayaan dunia serta perubahan tatanan global.
Ini kemudian memungkinkan bertemunya gaya hidup maupun bahasa baru dalam satu ruang yang sama. Pertemuan ini, menurut ahli sosiolinguistik Li Wei dari University College London (UCL) di Inggris, secara tak terelakkan mendorong percampuran kata dan bahasa - sebagai wujud kreativitas dan kekritisan terhadap sejarah dan budaya - dan membentuk tatanan sosiokultural baru dalam ruang tersebut.
Dalam konteks ruang urban, peneliti linguistik Alastair Pennycook dari University of Technology Sydney (UTS) di Australia menyebut keunikan percampuran bahasa seperti ala anak Jaksel ini sebagai "spatial repertoire", yakni khazanah bahasa dan budaya yang hanya bisa diamati di tempat tertentu - which is hal yang unik bagi Jakarta Selatan.![]()
Muhammad Iqwan Sanjani, PhD Candidate, UNSW Sydney dan Mohammad Nanda Widyarta, Lecturer in architecture history, Universitas Indonesia
Sebaiknya Anda baca juga:
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!