Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kesenjangan Pendanaan Membuat Kerawanan Pangan Dunia Makin Parah

📅 Jumat, 30 Jun 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kesenjangan Pendanaan Membuat Kerawanan Pangan Dunia Makin Parah Doc: Sumber: World Food Programme 2022 - KORAN JAKARTA/

JAKARTA - Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini melaporkan bahwa mereka hanya menerima 20 persen dana yang dibutuhkan untuk membantu masyarakat di seluruh dunia tahun ini yang diperkirakan sebesar 54,8 miliar dollar AS atau sekitar 822 triliun rupiah.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyatakan kesenjangan pendanaan itu menimbulkan konsekuensi nyata, antara lain pada kerawanan pangan, kesehatan, dan perlindungan bagi jutaan orang.

"Kami mendorong para pendonor untuk terus berkontribusi dengan murah hati pada rencana-rencana untuk merespons masalah kemanusiaan. Dengan kebutuhan yang meningkat secara eksponensial, pendanaan kesulitan untuk mengimbanginya," sebut OCHA dalam pernyataannya.

Hingga pertengahan tahun ini, sudah 362 juta yang orang membutuhkan bantuan atau 13 juta lebih banyak dari jumlah orang yang membutuhkan bantuan pada awal tahun.

"Ini berarti satu dari 22 orang di dunia kini membutuhkan bantuan. Pendanaan yang tidak merata di seluruh situasi darurat dan sektor telah menantang kemampuan kami untuk merespons kebutuhan yang melonjak," kata OCHA seperti dikutip dari Antara.

OCHA mengatakan krisis-krisis yang kekurangan dana termasuk Myanmar, Afghanistan, Burkina Faso, Republik Demokratik (RD) Kongo, Somalia, dan Venezuela.

RD Kongo menjadi contoh tantangan yang dihadapi OCHA. Salah satu krisis kemanusiaan paling kompleks dan berkepanjangan di dunia yaitu RD Kongo yang membutuhkan bantuan sebesar 1,88 miliar dollar AS pada 2022. Pada tahun ini, negara tersebut membutuhkan 2,25 miliar dollar AS untuk menyediakan bantuan dan perlindungan bagi 10 juta orang.

Menanggapi kondisi tersebut, pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Yohanes B Suhartoko, mengatakan kesenjangan pendanaan itu sangat mengkhawatirkan karena bisa membuat kerawanan pangan semakin parah.

"Kerawanan pangan harus menjadi perhatian serius dalam jangka panjang, apalagi perubahan iklim yang sering kali sulit diduga dan berdampak pada menurunnya produktivitas pangan," kata Suhartoko.

Selain itu, penyusutan lahan pertanian juga semakin cepat akibat industrialisasi. Oleh karena itu, teknologi pertanian harus fokus pada tantangan perubahan iklim dan peningkatan produktivitas. "Ketahanan pangan ke depan jangan dibangun di satu negara saja, tetapi diperluas dalam suatu kawasan atau regional, seperti kawasan Asia Tenggara," katanya.

Sementara itu, Deputi Asisten Utusan Khusus Presiden (UKP), Ahmad Yakub, mengatakan dampak krisis ekonomi sejak pandemi Covid-19 dan eskalasi resesi global karena konflik geopolitik, pembatasan ekspor, krisis energi, dan kegagalan panen akibat perubahan iklim telah mengganggu rantai pasok yang memicu naiknya harga beragam komoditas pangan.

Kenaikan harga pangan itu tentunya berdampak signifikan pada masyarakat miskin sebagai lapisan yang paling rentan terhadap gejolak ekonomi.

Pertaruhan Donatur

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya, Malang, Adhi Cahya Fahadayna, mengatakan konflik global trennya naik sehingga komitmen negara-negara donatur dalam memenuhi kenaikan kebutuhan dipertaruhkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
G7 Akan Lepas 100 Juta Bare...

PBB akan Alokasikan Dana untuk 12 Krisis Kemanusiaan

38 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Luar Negeri
Korsel Usulkan Dialog denga...
Luar Negeri
PBB Serukan Negara-negara T...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.