Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Memahami Hikikomori, Perilaku Ekstrem Orang yang Menarik Diri dari Kehidupan Sosial

📅 Sabtu, 03 Jun 2023, 10:28 WIB | Oleh: Tim Penulis

Penelitian kami pada populasi hikikomori di Prancis dan mereka yang berasal dari populasi lain menunjukkan bahwa meskipun banyak yang berharap masyarakat akan melupakan mereka, mereka tidak dapat dan tidak akan melupakan dunia yang mereka tinggalkan.

Sebaliknya, mereka secara pasif mengamati dunia melalui game online dan media sosial dalam suatu bentuk "kematian sosial". Para ahli juga mulai mengeksplorasi kemungkinan hubungan hikikomori dengan autisme, depresi, kecemasan sosial, dan agorafobia (rasa takut berlebihan).

Seorang yang melakukan hikikomori tidak hanya kehilangan waktu bertahun-tahun dalam hidup mereka dalam keterasingan, kondisi ini juga berdampak pada keluarganya.

Biasanya, orang tua Jepang dari orang yang mengalami hikikomori mendedikasikan waktu bertahun-tahun untuk memastikan kebutuhan hidup dasar anak mereka terpenuhi. Ini berarti jarang ada pemicu alami yang mendorong mereka untuk mendapatkan bantuan. Layanan kesehatan mental serta layanan pendidikan dan perawatan sosial terlalu sering difokuskan untuk menanggapi masalah yang lebih dramatis atau yang terlihat. Hal ini membuat keluarga merasa terjebak dan terisolasi.

Seiring dengan meningkatnya pengakuan global terhadap hikikomori, prevalensi kondisi ini akan meningkat. Pada akhirnya, hal ini akan menyoroti kebutuhan akan pilihan pengobatan yang lebih baik.

Saat ini, pengobatan berfokus pada aktivitas fisik, membangun kembali kapasitas untuk interaksi sosial, dan mengambil pendekatan bertahap untuk terlibat kembali dengan pekerjaan atau studi. Terapi yang melibatkan seluruh keluarga juga sedang diuji.

Pemulihan juga dapat melibatkan membantu orang yang melakukan _hikikomori_ untuk menemukan cara mengekspresikan kemampuan dan bakat mereka dengan cara yang dapat diterima secara sosial. Sebagai contoh, seniman Jepang Atsushi Watanabe menggunakan seni dan aktivisme sosial untuk membantu pemulihannya dari hikikomori.

Sayangnya, karakteristik dari hikikomori membuat langkah mencari bantuan menjadi sangat tidak mungkin. Dan mungkin pilihan gaya hidup ini dapat dilihat sebagai sesuatu yang dapat diterima karena COVID-19 - terutama mengingat banyak dari kita yang sekarang bekerja dari rumah dan bersosialisasi menggunakan internet. Ketakutan akan infeksi, kehilangan pekerjaan, dan gangguan sosial karena aturan karantina wilayah juga dapat menambah risiko penarikan diri dan keterpisahan sosial yang terus-menerus bagi banyak orang.

Pandangan kami adalah bahwa kita perlu mewaspadai potensi peningkatan penarikan diri secara ekstrem dan terus-menerus selama pandemi. Banyak anak muda yang saat ini mungkin merasa putus asa dan mungkin tidak melihat prospek untuk memulai hidup baru, atau mungkin merasa tidak mampu mencapai tujuan mereka.

Mereka yang mungkin telah kehilangan pekerjaan sebagai akibat dari pandemi juga dapat menarik diri untuk menghindari rasa malu dan penderitaan lebih lanjut.

Peningkatan penarikan diri yang parah dan terus-menerus tidak akan diketahui kecuali jika kita memastikan bahwa setiap orang bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan untuk tetap terhubung dengan masyarakat.

Demetrius Adyatma Pangestu dari Universitas Bina Nusantara menerjemahkan artikel ini dari bahasa InggrisThe Conversation

Maki Rooksby, Post-doctoral researcher, Institute of Neuroscience and Psychology, University of Glasgow; Hamish J. McLeod, Professor of Clinical Psychology, University of Glasgow, dan Tadaaki Furuhashi, Associate Professor of Psychiatry, Nagoya University

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Belajar merangkai kain batik di Semarang

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.