Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Robot Mikro untuk Mengirimkan Obat ke Titik Sumber Penyakit

📅 Rabu, 31 Mei 2023, 06:10 WIB | Oleh:

Rekan penulis CU Boulder lainnya dari studi baru ini termasuk Nick Bottenus, asisten profesor teknik mesin, Ankur Gupta, asisten profesor teknik kimia dan biologi, dan mahasiswa pascasarjana teknik, Ritu Raj Cooper Thome, Nicole Day, dan Payton Martinez.

Obat Berkelanjutan

Sebagai awal uji coba untuk robot mikro ini, para peneliti fokus pada keluhan umum bagi manusia. Salah satu dari penyakit yang ditetapkan untuk studi robot kecil itu adalah penyakit kandung kemih seperti sistitis interstisial yang juga dikenal sebagai sindrom kandung kemih yang menyakitkan.

Di Amerika Serikat (AS), penyakit ini mempengaruhi jutaan orang. Seperti namanya, dapat menyebabkan nyeri panggul yang parah.

Dalam pengobatannya pasien merasakan ketidaknyamanan. Seringkali mereka harus datang ke klinik beberapa kali selama beberapa pekan. Dalam pengobatan, dokter menyuntikkan larutan keras deksametason ke dalam kandung kemih melalui kateter.

Lee percaya bahwa robot mikro mungkin dapat memberikan bantuan. Dalam percobaan laboratorium, para peneliti membuat segerombolan robot mikro yang mengenkapsulasi deksametason konsentrasi tinggi.

Mereka kemudian memasukkan ribuan robot itu ke dalam badan tikus lab. Hasilnya adalah seperti dalam film Fantastic Voyage yang nyata. Robot mikro dapat menyebar melalui organ sebelum menempel ke dinding kandung kemih, yang kemungkinan akan membuat mereka sulit untuk buang air kecil.

Sesampai di sana, mesin perlahan melepaskan deksametason mereka selama sekitar dua hari. Aliran obat yang stabil seperti itu dapat memungkinkan pasien untuk menerima lebih banyak obat dalam rentang waktu yang lebih lama, kata Lee, meningkatkan hasil bagi pasien.

Dia menambahkan bahwa tim memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum robot mikro dapat melakukan perjalanan melalui tubuh manusia yang sebenarnya. Sebagai permulaan, kelompok tersebut ingin membuat mesin-mesin tersebut sepenuhnya dapat terurai secara hayati sehingga pada akhirnya akan larut dalam tubuh.

"Jika kita dapat membuat partikel ini bekerja di kandung kemih, maka kita dapat mencapai membuat obat yang lebih berkelanjutan dan mungkin pasien tidak perlu sering datang ke klinik," tutur Lee. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

53 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.