Kebangkitan Tiongkok sebagai Negara Adidaya, Apa Dampaknya bagi Indonesia dan Dunia?
📅 Jumat, 05 Mei 2023, 12:11 WIB | Oleh: Tim PenulisSementara itu, salah satu sisi negatif dari tatanan dunia yang lebih multipolar adalah potensi meningkatnya persaingan dan ketegangan antara negara-negara besar, apalagi jika mereka memiliki ideologi, sistem politik, atau model ekonomi yang berbeda. Kondisi ini berpotensi menimbulkan konflik dan ketidakstabilan, terutama jika kekuatan yang lebih kecil terjebak di tengah.
Multipolaritas juga berpotensi membuat dunia kekurangan sosok "pemimpin" yang bisa memberi arahan dalam urusan global. Kondisi ini bisa memperbesar perpecahan dan minimnya konsensus terkait isu-isu utama di ranah global, seperti perubahan iklim, ketidaksetaraan global, atau keamanan siber, apalagi jika negara-negara besar tak kunjung sepakat dalam menangani isu-isu krusial itu.
Saat ini, sebagian besar sistem tata kelola global tampak hanya merefleksikan dominasi AS dan sekutunya. Di bidang ekonomi, contohnya, Bank Dunia dan IMF masih didominasi oleh pengaruh AS. Dolar AS masih menjadi mata uang cadangan utama dan digunakan sebagai mata uang transaksi internasional yang dominan, sehingga AS bisa mempengaruhi kebijakan keuangan global.
Maka, dalam tatanan dunia yang multipolar diperlukan reformasi terhadap lembaga-lembaga internasional yang ada. Tujuannya untuk memastikan bahwa lembaga internasional ini dapat mewakili kepentingan semua negara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Asia Tenggara perlu hati-hati
Kebangkitan Cina, yang bisa berujung pada multipolarisme, sebenarnya dapat dirasakan manfaatnya oleh negara-negara kecil dan berkembang.
Dari segi ekonomi, adanya Belt and Road Initiative (BRI) Cina berpotensi membuka peluang baru bagi pembangunan dan kerja sama ekonomi di kawasan. Akan tetapi, ini sekaligus memunculkan kekhawatiran tentang pengaruh ekonomi Cina dan ketergantungan padanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
BRI adalah program investasi besar yang dirancang untuk mempromosikan kerja sama ekonomi antara Cina dan negara-negara di Asia, Eropa, Afrika, dan lainnya, biasanya melalui proyek-proyek infrastruktur, seperti pelabuhan dan rel kereta api.
Sebagian negara memandang prakarsa Cina ini sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di beberapa kawasan, khususnya di Asia Tenggara yang telah mengalami kesenjangan infrastruktur akibat kurangnya investasi.
Namun, negara-negara Asia patut waspada juga akan timbulnya ketergantungan pada Cina. Ada beberapa kekhawatiran bahwa negara-negara yang mungkin kesulitan membayar utang untuk membiayai proyek-proyek BRI akan menjadi terlalu bergantung pada Cina dalam hal pembiayaan, sehingga terpaksa menyerahkan aset strategis untuk membayar utang.
Bagi Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara secara khusus, lanskap geopolitik di mana Cina menantang dominasi AS ini harus direspons dengan cermat. Negara Asia Tenggara, terutama melalui ASEAN, perlu mempertimbangkan dengan sangat hati-hati terkait untung rugi dari beraliansi dengan kekuatan besar.
Beraliansi dengan AS bisa memberi jaminan keamanan dan perjanjian kerja sama pertahanan yang dapat membantu menjaga stabilitas di kawasan, namun di sisi lain bisa meningkatkan ketegangan dengan Cina.
Sementara itu, beraliansi dengan Cina dapat mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di kawasan, misalnya melalui BRI, namun dapat meningkatkan ketergantungan pada Cina dan berimplikasi pada kedaulatan nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!