Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

WHO Mendesak Dunia Meningkatkan Akses ke Pengobatan Infertilitas

📅 Minggu, 09 Apr 2023, 14:30 WIB | Oleh:
WHO Mendesak Dunia Meningkatkan Akses ke Pengobatan Infertilitas Doc: Shutterstock
Ket. Ilustrasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak negara-negara anggota untuk meningkatkan akses ke perawatan kesuburan yang terjangkau dan berkualitas tinggi bagi mereka yang membutuhkan, mengingat sekitar 17,5 persen dari populasi orang dewasa mengalami infertilitas pada 2022.

Dalam laporan bertajuk "Infertility Prevalence Estimate 1990 - 2021", angka itu menunjukkan bahwa 1 dari setiap 6 orang dewasa di seluruh dunia mengalami gangguan sistem reproduksi, yang ditandai dengan kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual secara teratur. Prakiraan itu sendiri didapat dari data prevalensi infertilitas yang dicatat WHO selama periode 1990 sampai 2021.

Atas dasar itu, WHO mendorong perlunya kebijakan dan pembiayaan publik yang lebih baik dapat secara signifikan meningkatkan akses ke pengobatan terkait infertilitas. Menurut WHO, mengatasi infertilitas merupakan komponen penting dari kesehatan dan hak seksual dan reproduksi.

Jika infertilitas tidak ditangani, hal itu dapat dapat menyebabkan tekanan, stigma, dan kesulitan keuangan yang signifikan, memengaruhi kesejahteraan mental dan psikososial orang. Kegagalan untuk mengatasi infertilitas akan menghambat upaya global untuk memastikan akses universal terhadap hak dan kesehatan seksual dan reproduksi.

Memahami besarnya infertilitas sangat penting untuk memantau, menilai, dan meningkatkan akses yang adil ke layanan perawatan kesuburan yang berkualitas, serta mengatasi faktor risiko dan konsekuensi infertilitas. Namun, solusi untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan infertilitas - termasuk teknologi reproduksi berbantuan seperti Fertilisasi In Vitro (IVF) yang juga dikenal sebagai bayi tabung - tetap tidak dapat diakses oleh banyak orang karena biaya tinggi, stigma sosial, dan ketersediaan yang terbatas.

Terlebih, di sebagian besar negara saat ini, perawatan kesuburan sebagian besar dibiayai sendiri dan karenanya sering mengakibatkan biaya keuangan yang sangat besar. Biaya yang tinggi inilah yang sering mencegah orang mengakses perawatan infertilitas, atau bahkan dapat melambungkan mereka ke dalam kemiskinan sebagai akibat dari mencari perawatan.

"Jutaan orang menghadapi bencana biaya perawatan kesehatan setelah mencari pengobatan untuk infertilitas, menjadikan ini masalah ekuitas utama dan terlalu sering, perangkap kemiskinan medis bagi mereka yang terkena dampaknya," kata Pascale Allotey, Direktur Kesehatan dan Penelitian Seksual dan Reproduksi di WHO, termasuk Program Khusus Riset, Pengembangan, dan Pelatihan Riset Reproduksi Manusia (HRP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Atas dasar itu, WHO mendorong perlunya kebijakan dan pembiayaan publik yang lebih baik dapat secara signifikan meningkatkan akses ke pengobatan dan sebagai hasilnya melindungi rumah tangga yang lebih miskin agar tidak jatuh ke dalam kemiskinan.

WHO juga mendesak perlunya ketersediaan data nasional yang lebih besar tentang infertilitas yang dipisahkan berdasarkan usia dan penyebab untuk membantu mengukur infertilitas, serta mengetahui siapa yang membutuhkan perawatan kesuburan dan bagaimana risiko dapat dikurangi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...
Megapolitan
Urus SIM Tak Repot Lagi, Ad...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.