Lima Racun Paling Mematikan di Dunia, Jangan Coba-coba!
📅 Sabtu, 08 Apr 2023, 10:57 WIB | Oleh: Tim PenulisBatrachotoxin membunuh dengan cara mengganggu saluran ion natrium di dalam sel-sel otot dan saraf, membuatnya macet sehingga tidak bisa menutup. Migrasi ion Na+ yang terus berlanjut pada akhirnya menyebabkan gagal jantung.
Menariknya, katak yang lahir di penangkaran dari spesies ini tidak beracun, hal ini menunjukkan bahwa racunnya berasal dari makanan mereka. Sebagai informasi, hampir 30 tahun yang lalu, Jack Dumbacher, seorang ahli burung Amerika, sedang bekerja di Papua Nugini ketika tangannya dicakar oleh salah satu burung Pitohui lokal. Secara naluriah ia langsung meletakkan tangannya ke mulutnya yang mulai mati rasa. Akhirnya, ditemukan bahwa burung-burung ini - yang berada di belahan dunia yang berlawanan dengan Kolombia - memiliki bulu yang mengandung molekul beracun yang sama dengan katak. Diperkirakan, baik burung maupun katak mendapatkan racun dari kumbang yang mereka makan - meskipun racunnya jauh lebih kuat pada burung.
2. Maitotoxin
Terdapat sejumlah racun laut yang kuat, seperti Saxitoxin, yang sering kali menjadi penyebab keracunan setelah makan kerang yang terkontaminasi. Hal ini sering dikaitkan dengan pertumbuhan ganggang di laut yang berbahaya.
Maitotoxin adalah yang paling mematikan dari zat-zat ini, diperkirakan memiliki LD50 sekitar satu kali lipat lebih kecil dari batrachotoxin. Dibentuk oleh dinoflagellata, sejenis plankton laut, ia memiliki struktur yang sangat rumit, yang menghadirkan tantangan besar bagi ahli kimia sintetis. Maitotoxin adalah kardiotoksin yang memberikan efeknya dengan meningkatkan aliran ion kalsium melalui membran otot jantung yang dapat menyebabkan gagal jantung.
Sebaiknya Anda baca juga:
1. Racun botulinum
Para ilmuwan berbeda pendapat tentang kadar racun suatu zat, tetapi mereka tampaknya setuju bahwa toksin botulinum yang diproduksi oleh bakteri anaerob adalah zat paling beracun yang pernah ada. LD50-nya sangat kecil - paling banyak 1 nanogram per kilogram dapat membunuh manusia. Dengan memperkirakan efeknya pada tikus, dosis suntikan sebesar 10-7g saja akan berakibat fatal bagi orang dengan berat badan 70kg.
Bakteri ini pertama kali diidentifikasi sebagai penyebab keracunan makanan akibat sosis yang tidak dimasak dengan benar (bahasa Latin: botulus) di Jerman pada akhir abad ke-18. Ada beberapa jenis racun botulinum, dengan tipe A sebagai yang paling kuat. Racun ini merupakan polipeptida yang terdiri dari lebih dari 1.000 molekul asam amino yang disatukan. Racun ini menyebabkan kelumpuhan otot dengan mencegah pelepasan molekul pemberi sinyal (neurotransmitter) asetilkolin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sifat melumpuhkan yang sama ini merupakan dasar dari penggunaan klinis toksin botulinum dalam kosmetik Botox. Suntikan sejumlah kecil toksin yang ditargetkan akan menghentikan kerja otot-otot tertentu, mengendurkan otot-otot yang dapat menyebabkan kulit keriput. Tetapi juga telah diterapkan pada berbagai kondisi klinis, seperti melumpuhkan otot yang, jika tidak diobati, akan menyebabkan mata juling (strabismus).
Ada minat yang meningkat untuk menggunakan sifat-sifat zat beracun secara medis. Racun ular berbisa pit viper Brasil yang mematikan, Bothrops jararaca contohnya, mengandung molekul penurun tekanan darah yang telah menghasilkan pengobatan untuk tekanan darah tinggi.
Seperti yang dikatakan oleh Paracelsus 500 tahun yang lalu: "Semua benda adalah racun dan tidak ada yang tanpa racun: dosisnya saja yang membuat sesuatu menjadi tidak beracun." Dan dia ada benarnya. Pada akhirnya, kita dikelilingi oleh zat-zat yang berpotensi berbahaya - dosislah yang membuatnya mematikan.
_Demetrius Adyatma Pangestu dari Universitas Bina Nusantara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris. _![]()
Simon Cotton, Senior Lecturer in Chemistry, University of Birmingham
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!