Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kehilangan Gambut Berarti Indonesia Kehilangan Aset Berusia 13 Ribu Tahun

📅 Jumat, 07 Apr 2023, 14:41 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kehilangan Gambut Berarti Indonesia Kehilangan Aset Berusia 13 Ribu Tahun Doc: The Conversation/CIFOR/Nanang Sudjana
Ket. Hutan gambut di Desa Parupuk, Katingan, Kalimantan Tengah.

Robby Irfany Maqoma, The Conversation

Gambut adalah tanah basah yang tersusun dari daun-daun dan material organik selama berabad-abad.

Di Indonesia, luas hutan dan rawa gambut sekitar 21 juta hektare atau lebih dari sepertiga (36%) dari total lahan gambut tropis di dunia.

Pakar kehutanan IPB University, Daniel Murdiyarso, mengatakan gambut adalah aset penting bagi indonesia. Selain menyerap karbon yang sangat besar, gambut juga berperan menjaga pasokan air bersih, habitat makhluk hidup, serta sumber penghidupan penting bagi masyarakat di sekitarnya.

Sayangnya, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove menyatakan hanya 4,02 juta hektare atau 16% dari total luas kawasan gambut Indonesia yang masih dalam kondisi baik. Sisanya rusak ringan hingga sangat berat. Kerusakan terjadi karena alih fungsi lahan gambut menjadi lahan pertanian, pertambangan, ataupun kebakaran.

Menurut Daniel, seluruh masyarakat Indonesia harus menjaga ekosistem ini. Kehilangan gambut, kata dia, sama saja dengan kehilangan 'barang antik' berusia 13.500 tahun.

"Barang antik ini harus dijaga agar utuh, menarik, dan berguna. bukan cuma jadi tontonan tapi berguna bukan hanya indonesia tapi juga dunia," ujar Daniel dalam peluncuran Strategi Nasional Pengelolaan Lahan Basah di Indonesia: Ekosistem Gambut dan Mangrove oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), pekan lalu.

Memanfaatkan gambut

Daniel mengatakan, upaya pelestarian gambut Indonesia harus terkait dengan kehidupan sehari-hari yang dekat warga sekitar. Dia mengaku terinspirasi dari warga di Jambi yang Daniel temui saat tengah meneliti potensi pembangunan ramah lingkungan beberapa tahun silam. Warga tersebut hidup bersama ekosistem gambut dengan mencangkul serta memanfaatkannya untuk menjadi sumber nafkah.

"Intinya bahwa mereka sudah di situ lama sekali dan bergantung pada gambut. Dia bilang, kenapa kita harus mencari yang belum kita punya dan sulit didapat karbon itu. Di sini banyak yang saya cangkul setiap hari, kenapa enggak dimanfaatkan? " kata dia.

Penelitian juga menunjukkan bahwa pemanfaatan kawasan gambut bisa dilakukan melalui paludikultur (pertanian di rawa dengan tanaman yang tahan hidup di air seperti sagu, pare, maupun kangkung).

Pemilihan komoditas yang sesuai dapat membuat teknik ini dapat berkontribusi terhadap kelestarian gambut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Untuk mencegah kerusakan gambut meluas, Indonesia melarang penerbitan izin di atas lahan gambut secara permanen sejak 2019. Presiden Joko Widodo juga menetapkan target pemulihan lahan gambut seluas 1,6 juta hektare.

Nah, dokumen Strategi Nasional Pengelolaan Lahan Basah yang diterbitkan Bappenas diharapkan mempercepat pemulihan lahan gambut. Dokumen ini juga menjadi dasar untuk pengembangan perekonomian berbasis gambut maupun mangrove bagi masyarakat sekitar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.