Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

PSSI Digunakan sebagai Batu Loncatan Jabatan

📅 Rabu, 05 Apr 2023, 00:03 WIB | Oleh:
PSSI Digunakan sebagai Batu Loncatan Jabatan Doc: ISTIMEWA
Ket. GELORA SURYA DHARMA TAHIR Pengamat Sepak Bola - Dua menteri yang menjadi pengurus PSSI itu bukti intervensi pemerintah. Ditambah lagi juru bicara PSSI yang sering muncul di media adalah orang partai.

JAKARTA - Presiden Joko Widodo beberapa kali minta tidak mencampuradukkan politik dan sepak bola. Pernyataan Jokowi tersebut sering diungkapkan setelah Federasi Sepak Bola Dunia, FIFA, membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia U-20.

Menurut pengamat sepak bola, Gelora Surya Dharma Tahir, yang lebih dikenal dengan sebutan Dali Tahir, pernyataan Jokowi itu tidak sesuai dengan fakta. Karena menurutnya, sejak dulu politik dan sepak bola Indonesia selalu bercampur. PSSI sebagai organisasi yang mengelola cabang olahraga sepak bola, selalu ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu demi kepentingan politik.

Bahkan menurut pria yang pernah menjabat sebagai anggota komite etik FIFA tersebut, PSSI dan sepak bola Indonesia tidak taat aturan. Banyak yang menggunakan PSSI sebagai batu loncatan jabatan lainnya yang dinilai lebih prestisius.

"Salah satu yang paling menonjol dan menjadi kelemahan PSSI atau sepak bola kita adalah tidak taat aturan, buat aturan-aturan sendiri. Aturan FIFA yang namanya statuta, tidak pernah kita ikuti," ujar Dali.

"Buat apa mendengung-dengungkan tidak boleh campur tangan antara sepak bola dan politik? Padahal kenyataannya di Indonesia, campur tangan politik dalam sepak bola Tanah Air nyatanya ada," sambungnya.

Dia memberi contoh, bagaimana dua menteri menjadi pengurus PSSI. Apakah itu bukan intervensi pemerintah? Terus ada lagi, juru bicara PSSI yang sering muncul di media. "Dia itu sama sekali tidak paham sepak bola dan orang partai," tandas Dali.

Pencampuradukan sepak bola dan politik yang terjadi di Indonesia, dalam pandangan Dali Tahir juga terlihat saat Presiden FIFA, Gianni Infantino, diajak ke pertemuan G20 di Bali beberapa waktu lalu. "Apa urusannya, Menteri BUMN Erick Thohir mengajak Infantino ke pertemuan politik. Itu menurut saya terlihat lebih ke saling memanfaatkan," jelasnya.

Semoga Tidak Disanksi Berat

Terkait sanksi yang bakal dijatuhkan FIFA, Dali Tahir menyatakan kita hanya bisa berharap agar Infantino melihat hubungannya dengan Indonesia. Selama ini hubungan Infantino dan Indonesia cukup baik, termasuk dengan Presiden Jokowi. "Kalau mengikuti aturan FIFA, jelaslah sepak bola Indonesia tidak boleh mengikuti ajang internasional selama dua tahun," tandasnya. Namun, dia berharap semoga saja, mudah-mudahan sanksi tidak seberat itu. Sekali lagi, ini kalau melihat hubungan baik Presiden FIFA dengan Presiden Jokowi.

Jika sanksi FIFA kembali dijatuhkan, itu berarti dua kali terjadi di era kepemimpinan Jokowi. Tahun 2015 lalu sepak bola Indonesia di-banned selama setahun oleh FIFA karena ada dua kompetisi.

Kemudian, jika dilihat Erick Thohir juga berpolitik. Malahan boleh dikata, dia mau mengambil untung di ujung saja. Betapa tidak, ajang gelaran Piala Dunia U-20 boleh dikata tinggal menghitung hari, lalu tiba-tiba dia maju mengambil alih ketua umum PSSI. Dia terang-terangan, Ketua Umum PSSI dapat mendongkrak popularitasnya. Itu diakui sendiri bahwa exposure Kementerian BUMN tidak sebesar Ketua Umum PSSI. "Banyak sekali yang meliput PSSI," ujar Erick.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Janice/Chong Singkirkan Ung...
Ekonomi
Sentimen The Fed Masih Domi...
Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.