Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ekonomi Asia Terhambat Kebijakan Moneter Ketat Global

📅 Rabu, 05 Apr 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ekonomi Asia Terhambat Kebijakan Moneter Ketat Global Doc: Sumber: ADB - KJ/ONES

» Inflasi di negara maju akan mendorong bank sentral untuk lebih jauh mengambil sikap kebijakan yang hawkish.

» Harga energi, minyak dan gas akan tetap tinggi karena sanksi Uni Eropa terhadap Russia semakin diperketat.

JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) mengingatkan bahwa tantangan global berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia pada 2023 ini.

Ekonom Utama Departemen Riset Ekonomi dan Kerja sama Regional ADB, Arief Ramayandi, dalam virtual webinar Asian Development Outlook April 2023 yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa (4/4), mengatakan ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia akan tumbuh 4,8 persen atau lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 4,6 persen.

"Kebijakan moneter kemungkinan akan tetap ketat di negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS) dan kawasan Euro yang akan mempengaruhi pertumbuhan negara-negara kawasan tersebut serta memiliki beberapa dampak limpahan ke Asia," kata Arief.

Beruntung, pembukaan kembali perekonomian Tiongkok telah menghidupkan kembali aktivitas bisnis, terutama pemulihan konsumsi dalam negeri lebih kuat dari perkiraan, sehingga memberi dampak limpahan ke regional setidaknya melalui perdagangan dan pariwisata.

Lebih lanjut dipaparkan, inflasi di negara maju akan mendorong bank sentral untuk lebih jauh mengambil sikap kebijakan yang lebih hawkish dan episode kondisi pengetatan likuiditas pun akan lebih lama terjadi di ekonomi global.

Implikasi dari tingkat suku bunga yang lebih tinggi, otomatis akan menuntut kemampuan fiskal yang lebih besar karena tingkat utang yang tinggi. Stabilitas sektor keuangan pun bisa mendapatkan risiko yang berasal dari berbagai sektor.

Harga Energi dan Pangan

Selain pengetatan kebijakan di negara maju, invasi Russia ke Ukraina, kata Arief, juga menjadi tantangan lainnya yang dapat semakin meningkatkan dan memperbaharui tantangan energi dan ketahanan pangan yang tinggi, serta mengobarkan kembali tekanan inflasi.

"Harga energi, minyak dan gas akan tetap tinggi karena sanksi Uni Eropa terhadap Russia semakin diperketat pada bulan Desember 2022 dan Januari 2023," katanya.

Tantangan global lain juga menghantui prospek pertumbuhan ekonomi negara berkembang Asia, termasuk pematahan produksi global yang dapat mempengaruhi perdagangan, lapangan kerja, dan produktivitas. Begitu pula beberapa tantangan yang muncul dari situasi cuaca ekstrem yang sering terjadi di dunia serta proses transisi ke kondisi zero emmision.

Secara terpisah, pengamat ekonomi, Nailul Huda, mengatakan tantangan ekonomi global ke depan adalah kondisi moneter dan sektor jasa keuangan yang tengah kelimpungan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.