Bagaimana Industri Air Kemasan Sembunyikan Krisis Air Global
📅 Minggu, 02 Apr 2023, 09:02 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Piyaset
Zeineb Bouhlel, United Nations University dan Vladimir Smakhtin, United Nations University
Air minum dalam kemasan merupakan salah satu produk minuman paling populer di dunia, dan industri ini dengan gencar memanfaatkan popularitas tersebut.
Semenjak milenium ini (memasuki abad ke-21), negara-negara di dunia telah meraih kemajuan signifikan untuk mewujudkan air minum yang aman bagi semua. Pada 2020, 74% populasi manusia memiliki akses ke air minum yang aman dikonsumsi. Angka ini meningkat 10% dibandingkan dengan dua dekade lalu. Namun, ini masih menyisakan dua miliar manusia yang tak memiliki akses terhadap air layak minum.
Sementara itu, perusahaan air minum kemasan mengeksploitasi air permukaan dan akuifer (lapisan kulit bumi berpori yang dapat menahan air) - biasanya dengan biaya yang sangat rendah - kemudian menjualnya dengan harga 150 hingga 1.000 kali lebih mahal daripada unit air keran di kota yang sama. Mereka kerap menjustifikasi tingginya harga ini dengan menawarkannya sebagai produk alternatif yang sepenuhnya aman dibanding air leding.
Tetapi air kemasan tidak kebal terhadap semua kontaminasi. Produk ini jarang menghadapi peraturan kesehatan masyarakat dan lingkungan yang ketat layaknya air keran yang merupakan utilitas publik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam penelitian yang baru-baru ini terbit, kami mempelajari 109 negara dan menyimpulkan bahwa industri air minum kemasan yang sangat menguntungkan dan berkembang pesat justru berujung menutupi kegagalan sistem publik untuk memasok air minum yang aman bagi seluruh masyarakat.
Industri ini dapat menghalangi progres pembangunan proyek air bersih, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan mengalihkan perhatian konsumen ke suatu pilihan yang kurang dapat diandalkan dan kurang terjangkau.
Industri Air Kemasan Dapat Mengganggu Pembangunan Berkelanjutan
Sebaiknya Anda baca juga:
Industri air kemasan yang berkembang begitu pesat juga dapat mempengaruhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) yang diusung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Laporan terbaru dari UN University mengungkap bahwa penjualan tahunan air minum kemasan secara global diproyeksikan naik dua kali lipat menjadi US$500 miliar (Rp 7.498 triliun) pada dekade ini.
Ekstraksi sumber daya untuk air minum kemasan dapat membuat wilayah yang kadar air tanahnya menurun semakin kekurangan air. Perkembangan bisnis air minum kemasan juga akan semakin berkontribusi terhadap polusi plastik di daratan dan lautan.
Tumbuh lebih cepat dibandingkan industri makanan dan minuman lainnya di seluruh dunia, pasar air minum kemasan terbesar berada di Negara-Negara Selatan atau Global South (istilah untuk negara berkembang, umumnya di luar Amerika Serikat dan Eropa) - dengan Asia Pasifik, Afrika, serta Amerika Latin dan Karibia menyumbang 60% dari total penjualan.
Namun, tidak ada wilayah yang tampaknya akan berhasil mencapai akses universal terhadap layanan air bersih, yang merupakan salah satu target SDGs 2030.
Justru, dampak terbesar industri tersebut adalah potensinya untuk melumpuhkan progres negara-negara untuk menyediakan akses air minum yang adil dan terjangkau.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!