Mahathir Tuding Pemerintah Langgar Konstitusi
📅 Selasa, 28 Mar 2023, 02:15 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: AFP/Arif KARTONO
KUALA LUMPUR - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, kembali mengkritik Perdana Menteri Anwar Ibrahim dengan menuduh pemerintahannya telah melanggar konstitusi negara itu karena telah menghentikan acara solidaritas Melayu.
Sebelumnya Mahathir dijadwalkan akan menghadiri acara Proklamasi Melayu pada 19 Maret lalu, tetapi penyelenggara terpaksa membatalkan acara tersebut setelah beberapa tempat membatalkan reservasi tempat penyelenggaraan.
Acara itu digelar untuk membahas pembukaan 12 butir Proklamasi Melayu yang menyatakan bahwa di bawah kepemimpinan PM Anwar dan pemerintahannya, mayoritas masyarakat Melayu telah kehilangan kekuasaan.
Lewat postingan di Facebookpada Senin (27/3), Mahathir mengatakan isi proklamasi tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Konstitusi Malaysia serta UMNO.
"Terhalangnya penyelenggaraan acara ini berarti pemerintahan Anwar menolak Konstitusi Federal dan Konstitusi UMNO," ujar Mahathir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam pernyataannya, Mahathir juga mengklaim bahwa orang Melayu telah kehilangan segalanya setelah dia mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada 2020 lalu menyusul runtuhnya pemerintahan Pakatan Harapan saat itu.
Manipulasi Isu Sensitif
Menjelang acara Proklamasi Melayu, PM Anwar telah memerintahkan pasukan keamanan untuk waspada terhadap mereka yang mengobarkan retorika ras dan agama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 18 Maret, Anwar yang tidak menyebut nama Mahathir, mengatakan bahwa ada mantan pemimpin yang mengeluh tentang orang Melayu yang kehilangan dominasinya setelah dia tidak lagi berkuasa.
Keesokan harinya, Anwar mengatakan bahwa para pemimpin yang putus asa karena kehilangan kekuasaan, sedang memanipulasi isu-isu sensitif.
Sementara itu Mahathir sebelumnya mengatakan dia tidak memiliki bukti bahwa Anwar berada di balik pembatalan mendadak acara Proklamasi Melayu tersebut, tetapi dia menuduh perdana menteri sebagai seorang diktator yang telah menunjukkan peningkatan intoleransi terhadap kebebasan berbicara dengan menyerang oposisi dan para pengkritiknya. ST/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!