Pangan, Infrastruktur dan Manusia
📅 Selasa, 21 Mar 2023, 00:02 WIB | Oleh: M. Selamet SusantoSetelah itu dari tahun ketahun impor gandum semakin lama semakin besar.
Bahkan Pemerintah Orde Baru memutuskan untuk membangun sebuah pabrik penggilingan gandum di bawah satu monopoli perusahaan swasta. Keputusan ini nantinya akan menjadi tonggak sejarah yang berakibat pada perubahan menu pangan dan budaya kulineari masyarakat hampir di semua lapisan masyarakat. Selain itu dan juga meminggirkan menu kulineari masyarakat berbasis makanan lokal dengan singkong dan umbi umbian.
Makanan Tradisional Dihilangkan Secara Budaya dan Sistematis oleh Negara Sendiri
Di aras menengah ke atas menu karbohidrat berubah dari beras ke roti (gandum) sedangkan di aras masyarakat ekonomi bawah mulai meninggalkan menu beras atau tepung-tepungan lain sebagai menu makanan tradisional ke mie instan. Sebenarnya makanan tradisional yang masih tersisia sangat sesuai dengan adat istiadat masyarakat serta lingkungan fisiknya dan tumbuh secara optimal. Tetapi justru dihilangkan secara budaya dan sistematis oleh negara sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peningkatan Produksi Pangan Gagal Tercapai Jika Abai pada Unsur Manusianya
Peningkatan potensi produk pangan sangat tergantung pada beberapa faktor yaitu : (i) daya potensi ketersediaan tanah dan air sebagai bagian dari sumberdaya alam yang tersedia, (ii) teknologi infrastruktur yang dipakai saat ini dan kemungkinan perkembangannya, (iii) tata kelola sistem, (iv) institusi yang terlibat, (v) manusia pelaku, serta perubahan lingkungan sistem yang terjadi baik lingkungan strategis maupun lingkungan ekologis , kedua lingkungan sistem tersebut berkembang secara cepat dan dinamis.
Untuk memecahkan masalah pangan, pemerintah kemudian membangun beberapa pusat pangan nasional (food estate). Sayangnya pemerintah sangat menggantungkan pada pembangunan infrastruktur dan menafikan keberadaan keempat unsur sistem pangan lainnya terutama unsur manusia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain dengan food estate, pemerintah juga membangun sistem irigasi secara signifikan. Paling tidak akan dilakukan pembangunan 65 waduk, 1 juta ha jaringan irigasi baru, 3,5 juta ha rehabilitasi jaringan. Saat ini total luas sistem irigasi permukaan di Indonesia mencakup lahan seluas 7,23 juta ha (Soekrasno dkk, 2015) tersebar di Jawa (46 persen), Sumatera (28 persen), Sulawesi (12 persen), Kalimantan (7 persen), NTB dan NTT (4 persen), Bali (2 persen), Maluku dan Papua (2 persen). Dengan sebaran data tersebut maka dapat diketahui bahwa pulau Jawa akan tetap menjadi penyumbang produksi padi di Indonesia.
Namun sayangnya bahwa pembangunan infrastruktur irigasi tidak diiringi dengan peningkatan pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaah irigasi (OP). Dana OP masih jauh dari kebutuhan, jumlah kebutuhan tenaga petugas , status dan kesejahteraan petugas OP juga masih sangat kurang. Padahal pengeloaan irigasi berbasis lima pilar sebagai bagian proses produksi pangan selalu harus dilakukan secara tersistem.
Kritik terhadap pemerintah yang terjebak dalam pragmatisme telah dilakukan beberapa pihak (Ekayanta, 2022). Bentuk pragmastime yang dilakukan adalah bahwa masing-masing pihak masih berpikir secara birokatris tanpa pendekatan sistem dan terbatas pada pelaksanaan alokasi anggaran. Selain itu pembangunan nasional juga dibiayai oleh utang yang diboroskan secara tidak produktif dan semakin lama semakin besar (Koran Jakarta 20 Maret 2023).
Wajah Indonesia pada Kemerdekaan 100 Tahunnya
Para pemimpin kurang berpikir secara kritis dan mendalam. Kurang dapat berpikir jauh ke depan. Bagaimana wajah Indonesia di segala bidang pada saat berumur 100 tahun ke depan?.
Katakanlah untuk irigasi ke depan pada saat itu bagaimana wajahnya? Mungkin belum ada yang berpikir ke sana .
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!