Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rusia Berharap Bantuan Militer Tiongkok, Bagaimana Sikap Beijing?

📅 Selasa, 14 Mar 2023, 14:12 WIB | Oleh: Tim Penulis

Cina juga mengkritik campur tangan Barat dalam perang Ukraina, dan mengusulkan rencana perdamaian sebagai upaya mengakhiri konflik. Namun, isi proposal ini tidak mengandung desakan agar Rusia menarik pasukannya dari Ukraina.

Sejauh ini, Cina masih menahan diri untuk mengirim bantuan militer ke Rusia. Mengubah sikap ini berarti bahwa Cina secara drastis berubah haluan dari kebijakan resminya terkait netralitas.

Musuh yang Sama

Keberhasilan Rusia di Ukraina sejalan dengan tujuan Cina untuk mengubah kembali bentuk politik dan kekuatan global. Hal ini juga dapat membantu memfasilitasi kebangkitan Cina sendiri untuk menjadi negara dengan kekuatan ekonomi dan militer besar dunia.

Pada Februari 2022, Presiden Cina, Xi Jinping, bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada acara Olimpiade Musim Dingin di Beijing. Mereka menyepakati dokumen bersama yang menyerukan perombakan politik global. Dalam rincian isi dokumen itu, kedua negara mengungkapkan nilai dan visi yang sama, yakni mengharapkan dunia di mana Amerika Serikat tidak menjadi "pemimpin utama", dan di mana Cina dan Rusia bisa memberikan lebih banyak kendali dan pengaruh pada dunia.

Para menteri luar negeri Cina dan Rusia bertemu pada 2 Maret 2023. Dalam kesempatan itu, pemerintah Cina merilis pernyataan yang mengulangi poin di atas, dengan menyatakan bahwa kedua negara "telah mempertahankan perkembangan yang sehat dan stabil, membentuk paradigma baru tentang hubungan negara-negara besar."

Para ahli politik dan hak asasi manusia tidak menganggap Rusia maupun Cina sebagai negara demokrasi ataupun negara yang bebas secara politik. Tetapi kedua negara tersebut selalu mengelu-elukan tradisi demokrasi mereka sendiri, sekaligus menyatakan bahwa mereka menentang dunia di mana AS merasa demokrasi dan hak asasi manusia versinya sendiri adalah satu-satunya pilihan.

Faktor Taiwan

Alasan lain Cina menginginkan Rusia memenangkan perang di Ukraina kemungkinan adalah karena kemenangan Rusia akan memberi Cina lebih banyak dukungan eksternal dalam misinya untuk mengambil alih Taiwan atau wilayah lainnya.

Secara geografis, Taiwan adalah sebuah pulau yang terletak di lepas pantai Cina. Taiwan telah mengklaim kemerdekaannya sebagai sebuah negara, tetapi Cina bersikeras bahwa Taiwan hanyalah provinsi yang memisahkan diri, sehingga Cina ingin merebut dan mengambil kembali kendali atas Taiwan.

Jika Rusia memenangkan perang Ukraina secepat rencana semula, ini mungkin bisa membuka jalan bagi Cina untuk mencoba melakukan invasi serupa terhadap Taiwan. Tapi, ternyata kemenangan kilat yang diharapkan Rusia tidak terjadi.

Meski demikian, perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan ini bisa menjadi peluang baru bagi Cina di Taiwan, karena mengalihkan uang, sumber daya militer, dan perhatian AS dari Taiwan.

Menurut argumen Menteri Luar Negeri Cina, Qin Gang, pada 7 Maret 2023, karena AS menjual senjata ke Taiwan, Cina pun berhak menjual senjata ke Rusia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp84.400/...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...
Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Nasional
Grab Tegaskan Rumor Hengkan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.