Trowulan, Situs yang Jadi Saksi Bisu Kemegahan Majapahit
📅 Senin, 13 Mar 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoBentuk gapura yang mirip dengan Candi Bajangratu ada di Candi Penataran di Blitar. Relief penghias bingkai pintu yang mirip dengan relief Ramayana. Relief naga yang ada menunjukkan pengaruh oleh seni pada era Dinasti Yuan, Tiongkok.
Sementara menurut JLA Brandes, Bajangratu ditilik dari reliefnya, Candi Bajangratu dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan Candi Jago di Tumpang, Malang. Adanya singa yang mengapit sisi kiri dan kanan pada kepala kala menjadi salah satu petunjuknya.
Candi Bajangratu dari bentuknya aslinya merupakan gapura beratap. Candi ini menghadap ke dua arah, yaitu timur-barat. Ketinggiannya mencapai puncak atap 16,1 meter dan panjangnya 6,74 meter. Gapura Bajangratu mempunyai sayap di sisi kanan dan kiri.
Sedangkan Candi Brahu berada terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong. Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit namun telah diaspal. Sisi kanan jalan kecil itu Candi Brahu berada, dengan jarak 1,8 kilometer dari jalan raya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Candi Brahu disebutkan lebih tua dibandingkan candi lain yang ada di sekitar Trowulan. Nama Brahu dihubungkan diperkirakan berasal dari kataWanaruatauWarahu, yaitu nama sebuah bangunan suci yang disebutkan di dalam prasasti pada logam tembaga bernama Alasantan yang ditemukan kira-kira 45 meter di sebelah barat candi ini.
Prasasti ini dibuat pada 861 Saka atau tepatnya 9 September 939 M atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan. Menurut masyarakat di sekitarnya, candi ini dahulu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja Brawijaya. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong.
Candi Brahu menghadap ke arah barat, dengan ukuran lebar 18 meter dan panjang 22,5 meter dan. Ketinggian yang tersisa sampai sekarang mencapai sekitar 20 meter. Anehnya, candi ini tidak berbentuk persegi empat melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk, yang menjadi kekayaan arsitektur kala itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagian tengah tubuhnya melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga tidak berbentuk berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar.
Di sekitar kompleks candi pernah ditemukan benda-benda kuno lain, seperti alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda lain dari emas, serta arca-arca logam yang kesemuanya menunjukkan ciri-ciri ajaran Buddha. Dari sini, sehingga ditarik kesimpulan bahwa Candi Brahu merupakan candi Buddha.
Salah yang masih dijumpai adalah Candi Tikus yang berlokasi di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 13 kilometer di sebelah tenggara Kota Mojokerto. Dari jalan raya Mojokerto-Jombang, di perempatan Trowulan, membelok ke timur, melewati Kolam Segaran dan Candi Bajangratu yang terletak di sebelah kiri jalan.
Candi Tikus juga terletak di sisi kiri jalan, sekitar 600 meter dari Candi Bajangratu yang ikonik itu. Candi yang ditemukan pada 1914 ini lokasinya berada di bawah permukaan tanah, setelah terkubur untuk waktu yang cukup lama. Nama 'Tikus' hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat karena ketika ditemukan ada sarang tikus.
Tidak jelas informasi yang jelas kapan dan untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun. Namun dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad 13 sampai 14 M, yang menjadi tren bangunan menara pada rentang abad itu.
Bentuk Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan atau pemandian mengundang perdebatan di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan, tempat mandi keluarga raja. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!