Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Fenomena Longsor di Natuna, Ini Analisis Badan Geologi

📅 Selasa, 07 Mar 2023, 14:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Fenomena Longsor di Natuna, Ini Analisis Badan Geologi Doc: antarafoto
Ket. Aparat saat longsor di Natuna.

KEPULAUAN RIAU - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan hasil analisis kebumian mereka terkait fenomena longsor yang terjadi di Desa Pangkalan, Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Kepala Badan Geologi Sugeng Mujiyanto mengatakan bencana gerakan tanah yang terjadi itu diperkirakan berupa aliran bahan rombakan atau debris flow.

"Berdasarkan Peta Geologi Regional Natuna, batuan penyusun di daerah bencana termasuk dalam batuan plutonik serasan yang tersusun granodiorit biotit dan granit hornblenda dengan helatan metasedimen," paparnya dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Selasa (7/3).

Sugeng menuturkan faktor penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan akibat kemiringan lereng tebing yang curam, tanah palapukan yang tebal dari batuan tua berupa lapukan granodiorit, dan curah hujan yang tinggi dengan durasi lama.

Pada 6 Maret 2023, sekitar pukul 11.15 WIB, longsor besar menimbun satu kampung akibat puncak bukit berubah menjadi sungai yang membawa material tanah di Natuna, Kepulauan Riau.

Bencana gerakan tanah itu mengakibatkan 10 orang meninggal dan diperkirakan setidaknya 50 orang masih dinyatakan hilang. Pemerintah setempat melaporkan ada 1.216 orang mengungsi ke tempat aman karena masih terjadi longsor susulan.

Badan Geologi mengimbau warga yang berada dekat alur aliran bahan rombakan untuk selalu waspada terkhusus saat hujan maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

Selain itu, kegiatan penanganan longsoran agar memperhatikan cuaca dengan tidak melakukan penanganan saat hujan dan setelah hujan deras sebab daerah itu masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan yang bisa menimpa petugas.

Kemudian, pemasangan rambu rawan bencana longsor di sekitar lokasi yang longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.

Selanjutnya, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

"Masyarakat setempat diimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah maupun BPBD setempat," pungkas Sugeng.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

32 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

35 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

57 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.