Merawat Kucing Jalanan Menurut Sains, Jangan Asal Tampung dan Beri Makan
📅 Sabtu, 04 Mar 2023, 10:21 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Flickr/Bastian Greshake Tzovaras
Mohammad Ikhsan Shiddieqy, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Keberadaan kucing jalanan yang terlantar di berbagai tempat publik mendorong aksi sukarela masyarakat dan para pecinta hewan. Misalnya, aksi street feeding atau pemberian makan langsung di tempat publik agar kucing jalanan tidak kelaparan. Ada pula yang mendirikan rumah singgah atau shelter kucing.
Aksi kelompok masyarakat dan komunitas yang peduli dengan keberadaan kucing jalanan ini perlu diapresiasi. Masing-masing komunitas tentu memiliki pendekatan dan metode berbeda, misalnya pembentukan shelter, program adopsi, street feeding, hingga sterilisasi.
Namun, kerja keras mereka masih bisa dikalahkan oleh fakta bahwa kucing betina melahirkan bisa melahirkan 2-3 kali dalam setahun. Jika tidak ditangani, situasi tersebut bisa mengakibatkan populasi kucing berlebih, seperti yang terjadi di Jakarta.
Ketika populasi meningkat, biaya operasional shelter membengkak. Namun tidak semua pemilik shelter bertanggung jawab, ada kasus pengelola meninggalkan shelter dan menyebabkan kucing-kucing penghuninya mati.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, banyaknya kucing jalanan di tempat umum berdampak buruk bagi kucing tersebut juga manusia di sekitarnya. Kucing berisiko kelaparan dan terkena penyakit. Sedangkan manusia bisa terganggu karena kotoran kucing yang bisa membawa penyakit zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia) dan juga parasit.
Karena itulah, kita membutuhkan langkah penanganan kucing jalanan yang sesuai dengan karakter kucing dan minim risiko terhadap manusia.
1. Rencanakan Shelter Kucing dengan Matang
Sebaiknya Anda baca juga:
Aspek pertama yang perlu diperhatikan adalah perencanaan yang matang dan memperhatikan kondisi lingkungan setempat. Tidak semua wilayah memiliki solusi yang sama dalam penanganan kucing jalanan.
Pembuatan shelter perlu mempertimbangkan lokasi dan harus berizin. Shelter dengan kapasitas tinggi tidak bisa berada dalam permukiman warga karena rawan konflik.
Setelah penentuan lokasi, kita membutuhkan perencanaan sumber daya manusia, biaya, dan rencana kapasitas. Tiga hal ini harus sejalan satu sama lainnya demi kesejahteraan kucing dan relawan.
Beberapa studi telah mengkaji aspek perencanaan yang diperlukan agar rumah singgah selaras dengan kesejahteraan hewan. Beberapa contohnya: lokasi shelter selayaknya berdekatan dengan fasilitas kesehatan hewan, atau perumusan strategi penampungan kucing sesuai kapasitas.
Pengelola shelter kucing jalanan harus lebih tegas seputar kemampuan perawatannya. Mereka tak perlu menampung semua kucing yang kesusahan.
Pengelolaan shelter sebaiknya selaras dengan program adopsi. Harapannya, shelter tidak hanya menampung kucing-kucing jalanan, tapi juga aktif mengajak masyarakat untuk mengadopsi mereka. Program adopsi memungkinkan kesehatan kucing penghuni shelter lebih terjaga karena kepadatan rumah singgah yang terkendali.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!