Guru Besar Unair Temukan Senyawa Tanaman untuk Obat Anti Kanker dan Demam Berdarah

Jumat, 03 Mar 2023, 14:12 WIB

SURABAYA - Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Alfinda Novi Kristanti, baru-baru ini berhasil menemukan senyawa tanaman untuk obat anti kanker dan demam berdarah.

Dalam sesi orasi, pengukuhan guru besar
pada Kamis (2/3), Alfinda memaparkan hasil risetnya mengenai fitokimia senyawa fenolik pada tanaman obat dan tanaman endemik Indonesia sebagai bahan baku obat. Kajian itu berfokus pada fungsi tanaman yang menyediakan senyawa metabolit sekunder dengan struktur dan bioaktivitas beragam yang bisa dimanfaatkan manusia.

Ket. Foto: Alfinda Novi Kristanti saat penyampaian orasi ilmiah — Sumber: Istimewa

Selama satu dekade terakhir, Alfinda telah meneliti tanaman gaharu (Aquilaria microcarpa), gambir (Uncaria), dan sambung nyawa (Gynura procumbens). Pada spesies Aquilaria, ia menyebut ada kandungan chromone yang mirip dengan senyawa golongan 2-styrylchromone dimana kesediaan senyawa ini sangat jarang sehingga harus dilakukan sintesis organik.

Dari sintesis dengan variasi struktur benzaldehid, Alfinda menemukan 9 senyawa golongan 2-styrylchrome. Senyawa ini lalu diuji secara in silico melalui docking experiment menggunakan protein sebagai target obat pengembangan kemoterapi kanker.

"Rangkaian penelitian ini menjadi contoh bagaimana alam telah memberikan ide struktur senyawa untuk dapat dilakukan sintesis senyawa dengan potensi yang lebih baik," ungkap dosen departemen kimia itu dalam keterangan tertulis.

Selanjutnya, ia beralih pada komponen utama gambir yaitu catechin merupakan senyawa golongan flavonoid. Dari hasil isolasi menunjukkan satu kilogram gambir mengandung kadar catechin sebesar 18 gram dengan tingkat kemurnian 90 persen.

"Senyawa catechin dapat bertindak sebagai antikanker, antiviral, antimikroba, bahkan aktivitas antioksidannya jauh lebih besar dibandingkan dengan vitamin C. Hal ini secara tidak langsung dapat mencegah potensi terjadinya kanker," terang Alfinda.

Guru besar Unair PTN-BH ke-275 ini melanjutkan pemaparan risetnya terhadap sambung nyawa yang telah dimanfaatkan sebagai pengobatan. Bagian akar Gynura procumbens rupanya jauh lebih aktif dibandingkan daun, namun kelemahannya pemanfaatan akar tersebut harus mencabut seluruh tanaman.

Dia kemudian mendasarkan pada peningkatan biomassa dan kandungan metabolit menggunakan kultur akar adventif tanaman. Selain itu, dilakukan pengembangan potensi tanaman menggunakan nanoteknologi berupa nanokapsul ekstrak tanaman yang dapat meningkatkan aktivitas anti-dengue dan menurunkan toksisitas.

Pada akhir, Alfinda menuturkan komunikasi kimiawi tanaman memberikan dampak positif bagi manusia dengan dihasilkannya senyawa metabolit sekunder. Diikuti perkembangan ilmu sintesis organik, khususnya nanoteknologi terbukti mampu meningkatkan potensi tanaman obat sebagai bahan baku obat.

"Oleh karena itu, riset tentang pemanfaatan senyawa metabolit sekunder pada tanaman sangat penting untuk dilakukan. Untuk mendukung pembangunan ekosistem kemandirian obat di Indonesia," tutupnya.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.