Briket dari Ampas Kopi Karya Dosen UTU Diakui Negara, Kemenkum Terbitkan Sertifikat Paten,
Selasa, 04 Agu 2026, 03:00 WIBInovasi pengolahan limbah ampas kopi menjadi briket bahan bakar padat yang efisien karya Dosen Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat memperoleh pengakuan negara melalui Sertifikat Paten Sederhana dari Kementerian Hukum RI.
Rancangan ini merupakan inovasi karya Utari Azrani bersama Muhammad Reza Aulia dan Fantashir Awwal Fuqara, dosen di Universitas Teuku Umar Meulaboh.
"Kami merancang metode ini untuk mengatasi belum terukurnya proses pembuatan briket ampas kopi di masyarakat,â kata Utari Azrani dalam keterangan yang diterima di Meulaboh, Senin.
Menurutnya, metode ini menawarkan solusi ganda, yakni mengurangi akumulasi limbah organik dari warung dan industri kopi, sekaligus menghadirkan sumber energi alternatif yang ekonomis.
Ketersediaan bahan baku di Aceh sangat melimpah dan prosesnya dirancang agar mudah diterapkan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Paten bernomor IDS000013454 tersebut diterbitkan pada 18 Mei 2026. Dokumen resmi ini ditandatangani oleh Menteri Hukum melalui Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang, Dr. Andrieansjah, S.T., S.H., M.M.
Ketua tim peneliti, Utari Azrani menjelaskan bahwa gagasan pengolahan ini bermula dari persoalan mutu briket berbahan dasar limbah ampas kopi di pasaran yang kerap tidak konsisten akibat proses pembuatan yang belum sistematis.
Metode yang dipatenkan ini diawali dengan pengumpulan ampas kopi segar dari mesin pembuat kopi. Kadar air awal ampas kopi diturunkan hingga mencapai kisaran 30 sampai 40 persen.
Selanjutnya, ampas kopi dicampur dengan tepung tapioka sebagai bahan perekat, serbuk kayu gergaji sebagai bahan tambahan, serta air dalam komposisi terukur hingga membentuk adonan homogen.
Adonan tersebut kemudian dipadatkan menggunakan mesin pengepres hidrolik hingga mencapai tingkat kerapatan atau densitas 0,9 hingga 1,2 gram per sentimeter kubik. Setelah dipotong dalam ukuran seragam, briket dikeringkan menggunakan oven pada suhu 80 hingga 100 derajat Celsius selama 3 sampai 4 jam hingga kadar air akhirnya berada di bawah 10 persen.
Rangkaian proses terkontrol dari hulu ke hilir inilah yang memastikan kualitas pembakaran briket tetap stabil.
Briket ampas kopi ini disiapkan untuk memenuhi kebutuhan energi skala rumah tangga, industri kecil, hingga pasokan energi lokal. Pengolahan limbah ini sekaligus mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular di wilayah penghasil kopi.

Ketua tim peneliti briket ampas kopi dari UTU Meulaboh, Aceh Barat, Utari Azrani.Â
Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Aceh Barat,Prof Dr Nyak Amir menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian yang diraih para dosen Fakultas Pertanian tersebut.
Ia menegaskan pihak rektorat siap memberikan pengawalan penuh terhadap riset-riset terapan yang berorientasi pada pemecahan masalah di tengah masyarakat.Â
"Pencapaian Sertifikat Paten Sederhana ini menjadi bukti nyata bahwa riset akademisi UTU mampu menjawab tantangan lingkungan dan kebutuhan energi masyarakat. Pimpinan universitas terus mendorong lahirnya inovasi yang sejalan dengan program Diktisaintek Berdampak dari Kemdiktisaintek, sekaligus menjadi pijakan penting dalam mewujudkan cita-cita UTU Gemilang," katanya.
- Briket Ampas Kopi
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.