Paus Leo XIV Soroti Krisis Ceuta, Spanyol Desak Solidaritas Uni Eropa

Selasa, 04 Agu 2026, 03:00 WIB

VATIKAN CITY – Paus Leo XIV menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Ceuta, wilayah perbatasan Spanyol di Afrika Utara, menyusul gelombang besar migran dari Maroko yang memicu tekanan serius terhadap kawasan tersebut.

Dalam doa Angelus mingguan di Lapangan Santo Petrus, Senin (3/8), Paus mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk mendoakan terciptanya solusi damai atas krisis tersebut.

Ket. Foto: Ceuta: Ribuan Migran Menyeberangi Perbatasan Spanyol — Sumber: afp

"Saya mengikuti dengan penuh keprihatinan situasi yang mengkhawatirkan di Ceuta. Saya berdoa kepada Tuhan agar, melalui perantaraan Bunda Maria dari Afrika, dapat ditemukan solusi yang membawa perdamaian, stabilitas, dan keadilan," ujar Paus Leo XIV.

Ia juga kembali menyerukan penghentian berbagai konflik bersenjata di dunia melalui jalur diplomasi.

"Marilah kita terus berdoa untuk perdamaian agar perang dapat berhenti di seluruh dunia dan solusi diplomatik bagi setiap konflik dapat ditemukan," katanya.

Paus turut mengenang para korban konflik, terutama kelompok paling rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang sakit.

"Semoga Tuhan menghibur mereka yang menderita dan memberkati semua pihak yang memberikan pertolongan dan penghiburan," ucapnya.

Dalam renungan Injil, Paus menegaskan bahwa mukjizat Yesus, termasuk penggandaan roti, menunjukkan kasih Allah yang tidak pernah meninggalkan manusia. Ia mengingatkan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan pemborosan merupakan persoalan moral yang harus dihadapi bersama.

"Di tengah kemewahan yang membusuk, kita masih melihat mereka yang menangis karena lapar dan kehausan. Di tengah kesengsaraan perang, marilah kita meneladani Kristus yang membagikan roti kepada semua orang," ujar Paus.

Ia mengajak umat untuk menjadikan Ekaristi sebagai inspirasi dalam berbagi kepada sesama, termasuk kepada mereka yang membutuhkan di tengah berbagai krisis kemanusiaan.

Minta Dukungan

Sementara itu, Pemerintah Spanyol meminta dukungan penuh negara-negara Uni Eropa (UE) untuk menghadapi krisis migrasi di Ceuta yang terus membebani kapasitas wilayah tersebut.

Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menegaskan bahwa Ceuta dan Melilla bukan hanya perbatasan Spanyol, tetapi juga merupakan perbatasan selatan UE.

"Kami akan menuntut solidaritas dari seluruh negara anggota UE. Tidak ada UE tanpa solidaritas," kata Albares dalam wawancara dengan stasiun televisi RTVE.

Ia mengingatkan bahwa Spanyol selama ini selalu membantu negara anggota lain ketika menghadapi krisis migrasi, termasuk saat Italia mengalami lonjakan migran di Pulau Lampedusa.

"Ketika Italia menghadapi krisis migrasi di Lampedusa, Spanyol selalu menunjukkan solidaritas, baik secara politik maupun praktis. Kini kami mengharapkan hal yang sama dari negara-negara Eropa lainnya," ujarnya.

Krisis bermula pada akhir Juli ketika sekitar 60.000 migran dari Maroko memasuki Ceuta hanya dalam waktu 24 jam. Jumlah tersebut sangat besar mengingat populasi kota otonom itu hanya sekitar 85.000 jiwa.

Lonjakan migran memaksa pemerintah Spanyol mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, dan militer untuk memperketat pengamanan perbatasan.

Pemerintah juga memasang penghalang terapung di kawasan pantai Tarajal guna mencegah penyeberangan melalui jalur laut.

Aparat keamanan terus melakukan patroli dan mengidentifikasi para migran sebelum menjalankan proses deportasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Otoritas Spanyol melaporkan jumlah korban meninggal akibat gelombang penyeberangan ilegal meningkat menjadi 72 orang.

  • Paus Leo XIV

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.