Inggris Hadapi Ancaman Resesi Akibat Blokade Hormuz

Selasa, 04 Agu 2026, 03:00 WIB

Moskow – Inggris diperkirakan menghadapi risiko resesi apabila Selat Hormuz tetap tertutup hingga 2027. Penutupan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia itu diproyeksikan menekan pertumbuhan ekonomi, memicu lonjakan inflasi, dan meningkatkan biaya energi yang pada akhirnya membebani dunia usaha maupun rumah tangga.

Surat kabar The Independent, Senin (3/8), mengutip analisis perusahaan konsultan EY, melaporkan bahwa skenario terburuk tersebut dapat terjadi apabila Selat Hormuz tidak kembali dibuka hingga awal atau setidaknya pertengahan 2027.

Ket. Foto: Selat Hormuz memiliki peran strategis bagi perdagangan energi global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional. — Sumber: istimewa

Dalam proyeksi tersebut, produk domestik bruto (PDB) Inggris diperkirakan hanya tumbuh 0,5 persen pada 2026, sebelum berkontraksi 0,2 persen pada 2027. Kontraksi tersebut menandakan Inggris berpotensi kembali memasuki fase resesi setelah menghadapi tekanan ekonomi akibat tingginya harga energi dan lemahnya aktivitas bisnis.

Selain perlambatan ekonomi, EY memperkirakan inflasi Inggris dapat melonjak hingga 6,4 persen pada akhir 2026. Kenaikan inflasi dipicu meningkatnya harga minyak mentah dunia yang berdampak langsung pada biaya energi, transportasi, logistik, hingga harga barang dan jasa.

Menurut EY, tekanan tersebut akan mengurangi daya beli masyarakat, memperbesar beban biaya operasional perusahaan, dan memperlambat investasi. Kondisi itu berpotensi menekan konsumsi domestik yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Inggris.

Ancaman tersebut muncul di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Pada 8 Juli, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran yang disepakati pada 18 Juni tidak lagi berlaku.

Setelah itu, militer AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Teheran juga memblokade Selat Hormuz dan menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dicapai.

Lonjakan Harga

Selat Hormuz memiliki peran strategis bagi perdagangan energi global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut sehingga setiap gangguan berpotensi langsung memicu lonjakan harga energi dunia.

Para ekonom menilai dampak penutupan Selat Hormuz tidak hanya dirasakan Inggris, tetapi juga negara-negara lain yang bergantung pada impor energi. Kenaikan harga minyak diperkirakan akan memperbesar tekanan inflasi global, mempersulit bank sentral dalam menurunkan suku bunga, serta meningkatkan risiko perlambatan ekonomi di berbagai kawasan.

Bagi Inggris, situasi tersebut menjadi tantangan tambahan di tengah proses pemulihan ekonomi yang masih rapuh. Biaya energi yang tinggi diperkirakan akan menekan sektor manufaktur, transportasi, dan jasa, sementara rumah tangga menghadapi kenaikan biaya hidup yang lebih besar.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.