• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kenali Gejala Kanker Tiroi...

Kenali Gejala Kanker Tiroid, Benjolan di Leher Bisa Jadi Tanda Awal

Kamis, 28 Mei 2026, 20:20 WIB

JAKARTA — Benjolan di leher kerap dianggap sebagai masalah kesehatan biasa yang tidak berbahaya. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda awal kanker tiroid yang perlu diwaspadai. Para dokter mengingatkan pentingnya deteksi dini karena peluang kesembuhan kanker tiroid sangat tinggi apabila ditemukan dan ditangani sejak awal.

Kelenjar tiroid merupakan organ kecil berbentuk menyerupai kupu-kupu yang berada di bagian depan leher dan menempel pada trakea. Dalam kondisi normal, kelenjar ini umumnya tidak terlihat dari luar. Meski hanya memiliki berat sekitar 25–30 gram pada orang dewasa, tiroid memegang peranan penting dalam tubuh karena menghasilkan hormon yang mengatur metabolisme, suhu tubuh, kerja jantung, sistem pencernaan, hingga fungsi saraf dan otak.

Ket. Foto: Dr. dr. Diani Kartini, Sp. B, Subsp. Onk. (K) Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, di Jakarta pada hari Selasa (26/5). Ia menuturkan, benjolan di leher jangan dianggap sepele. Kenali gejala, faktor risiko, diagnosis, dan penanganan kanker tiroid yang memiliki peluang kesembuhan tinggi jika terdeteksi sejak d — Sumber: Koran Jakarta - Haryo Brono

Gangguan pada kelenjar tiroid dapat dialami siapa saja, baik pria maupun wanita, pada berbagai kelompok usia. Kondisinya beragam, mulai dari gangguan fungsi hormon hingga munculnya benjolan dan kanker tiroid. Karena itu, masyarakat perlu memahami gejala, faktor risiko, hingga langkah penanganannya.

Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Dr. dr. Diani Kartini, Sp.B, Subsp.Onk.(K), mengatakan kanker tiroid terjadi ketika sel-sel abnormal pada jaringan tiroid tumbuh tidak terkendali dan membentuk tumor ganas.

“Sebagian besar kanker tiroid tumbuh lambat dan memiliki tingkat kesembuhan yang sangat tinggi, terutama jika dideteksi dan ditangani sejak dini,” kata dr. Diani di Jakarta pada hari Selasa (26/5).

Berdasarkan data Globocan 2020, kanker tiroid menempati urutan ke-12 dari seluruh jenis kanker di Indonesia dengan sekitar 13.114 kasus baru setiap tahun. Penyakit ini lebih sering dialami perempuan, bahkan hingga empat kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Mayoritas kasus ditemukan pada usia produktif, yakni sekitar 50–54 tahun.

Menurut dr. Diani, kanker tiroid tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebar ke jaringan sekitar maupun organ lain apabila tidak ditangani dengan baik.

“Namun, dengan diagnosis dan pengobatan yang tepat, peluang kesembuhan tergolong sangat baik,” ujarnya.

Jenis Kanker Tiroid

Kanker tiroid terdiri dari beberapa jenis. Jenis yang paling umum adalah papillary thyroid cancer atau kanker tiroid papiler yang mencakup sekitar 80 persen dari seluruh kasus. Tipe ini memiliki karakter pertumbuhan lambat dan peluang kesembuhan yang sangat baik.

Jenis kedua adalah follicular thyroid cancer atau kanker tiroid folikular yang menyumbang sekitar 10–15 persen kasus. Karakteristiknya cenderung lebih agresif dibandingkan tipe papiler, tetapi masih tergolong dapat disembuhkan.

Sementara itu, medullary thyroid cancer berasal dari sel C tiroid dan sering dikaitkan dengan faktor keturunan atau genetik. Jenis ini mencakup sekitar 5–9 persen kasus kanker tiroid.

Adapun anaplastic thyroid cancer merupakan tipe paling agresif dan paling jarang ditemukan. Meski hanya menyumbang sekitar 1–2 persen kasus, kanker jenis ini berkembang cepat dan membutuhkan penanganan segera.

Faktor Risiko dan Gejala

Penyebab pasti kanker tiroid hingga kini belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini.

Paparan radiasi di area kepala dan leher, terutama saat masa kanak-kanak, menjadi salah satu faktor risiko utama. Dampaknya bahkan dapat muncul 10 hingga 20 tahun setelah paparan terjadi.

Selain itu, faktor keturunan juga berperan penting. Sekitar 5–10 persen kasus kanker tiroid berkaitan dengan mutasi genetik yang diwariskan dalam keluarga. Kekurangan asupan yodium pun dapat meningkatkan risiko gangguan pada kelenjar tiroid.

Gejala kanker tiroid sering kali tidak khas dan menyerupai penyakit ringan lainnya. Namun, ada sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, seperti munculnya benjolan di leher yang bergerak saat menelan, suara serak yang menetap, rasa mengganjal saat menelan makanan, hingga sesak napas atau batuk yang tidak kunjung sembuh.

“Jika mengalami salah satu atau beberapa tanda tersebut, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter spesialis,” kata dr. Diani.

Pemeriksaan dan Diagnosis

Untuk memastikan diagnosis kanker tiroid, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan wawancara medis atau anamnesis. Pemeriksaan darah juga dilakukan untuk mengevaluasi fungsi hormon tiroid melalui pengukuran thyroid stimulating hormone (TSH) dan free thyroxine (FT4).

Namun, hasil fungsi hormon yang normal tidak selalu berarti benjolan tersebut bebas dari kanker.

“Banyak pasien kanker tiroid justru memiliki hasil pemeriksaan darah yang normal. Karena itu diperlukan pemeriksaan lanjutan,” ujar dr. Diani.

Pemeriksaan lanjutan tersebut meliputi ultrasonografi (USG) guna melihat karakteristik benjolan, CT scan apabila dicurigai terdapat penyebaran ke jaringan sekitar, hingga Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) atau biopsi jarum halus untuk mengambil sampel sel dan memastikan diagnosis.

Penanganan Kanker Tiroid

Penanganan kanker tiroid disesuaikan dengan jenis kanker, ukuran tumor, serta kondisi kesehatan pasien secara umum.

Metode utama yang umum dilakukan adalah tiroidektomi atau operasi pengangkatan sebagian maupun seluruh kelenjar tiroid. Tindakan ini dapat dilakukan melalui operasi terbuka maupun teknik minimal invasif.

Selain operasi, pasien juga dapat menjalani terapi radioaktif iodine atau Radioactive Iodine (RAI) untuk membantu menghancurkan sisa sel kanker tiroid. Terapi hormon diberikan sebagai pengganti hormon tiroid setelah operasi guna menjaga keseimbangan fungsi tubuh.

Pilihan terapi lainnya adalah Radiofrequency Ablation (RFA), yaitu prosedur minimal invasif menggunakan energi panas untuk mengecilkan atau menghancurkan jaringan abnormal pada tiroid.

Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien kanker tiroid tetap dapat menjalani kehidupan secara aktif dan produktif.

Risiko Kekambuhan dan Komplikasi

Meski memiliki peluang kesembuhan tinggi, kanker tiroid tetap dapat kambuh pada sebagian pasien. Karena itu, dokter biasanya melakukan pemantauan rutin melalui tes darah dan pemeriksaan whole body scan.

Kanker tiroid juga dapat menimbulkan komplikasi apabila terlambat ditangani. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain gangguan suara, kesulitan menelan, dan sesak napas akibat tekanan pada jaringan di sekitar leher.

Pada kondisi lebih lanjut, sel kanker dapat menyebar ke organ lain seperti paru-paru, tulang, maupun jaringan sekitar tenggorokan. Kondisi ini dikenal sebagai kanker metastatik.

Dr. Diani mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan yang terjadi di area leher, terutama jika muncul benjolan yang menetap.

“Waspadai setiap perubahan di leher Anda. Jika menemukan benjolan atau tanda kanker tiroid lainnya, segera berkonsultasi dengan dokter agar bisa mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat sedini mungkin,” tuturnya.

  • kanker
  • Penyakit Kanker
  • RS Pondok Indah
  • kanker tiroid
  • gejala kanker tiroid
  • benjolan di leher
  • kesehatan tiroid
  • tiroid
  • deteksi dini kanker
  • dr Diani Kartini
  • bedah onkologi
  • gangguan tiroid
  • papillary thyroid cancer
  • kanker tiroid papiler
  • kesehatan leher

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.