Investasi Energi Bersih Tersendat, Keanekaragaman Hayati Indonesia Terancam
📅 Senin, 27 Feb 2023, 11:22 WIB | Oleh: Tim PenulisDi tingkat global, pembakaran bahan bakar fosil, termasuk batu bara, merupakan salah satu kontributor utama dalam emisi Gas Rumah Kaca (GRK) - hampir 90% dari seluruh emisi CO2. Efek ini mendorong terjadinya peningkatan suhu bumi dan perubahan iklim yang merupakan salah satu ancaman besar bagi keanekaragaman hayati.
Menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), peningkatan suhu bumi telah menyebabkan perubahan ekologi seperti migrasi ikan salmon chinook ke sungai-sungai di Kutub Urara, perubahan perilaku spesies termasuk waktu berkembang biak yang lebih awal untuk walet pohon Amerika Utara.
Di Kalimantan, misalnya, pertambangan batu bara memengaruhi tingkat suhu dan curah hujan secara signifikan, bertambah 1 derajat Celcius selama 16 tahun terakhir. Ini berbahaya bagi terumbu karang sebagai pelindung pantai dan pesisir serta pendukung ekosistem laut, yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu.
Tingkatkan Investasi Energi Bersih
Sebaiknya Anda baca juga:
Demi pelestarian bumi, pemerintah mesti mengatasi berbagai hambatan proyek energi bersih di Indonesia.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan investasi energi bersih Indonesia sulit terwujud. Kementerian Energi menyebutkan kondisi COVID-19 membuat investasi EBT sulit tercapai. Proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) juga belum optimal karena terganjal kesepakatan tarif antara pengembang dengan PLN.
Harga yang tak ekonomis, serta risiko investasi yang mesti ditanggung, juga membuat pebisnis enggan menanamkan modal di sektor EBT.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebuah studi juga menegaskan bahwa Indonesia masih bergantung pada bank konvensional lokal dalam mendanai investasi energi. Sementara, lembaga-lembaga ini masih cenderung condong ke pembiayaan proyek batu bara karena dinilai lebih menguntungkan dan minim risiko.
Hal ini diperparah dengan kebijakan pemerintah yang cenderung pro batu bara dengan menekankan pada penyerapan suplai untuk domestik. Ini dari kontribusi batu bara ke bauran energi yang ditargetkan meningkat dari 24% pada 2011 menjadi 30% pada 2025.
Sebetulnya, terdapat beberapa langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan investasi seperti pemberian insentif fiskal melalui keringanan pajak seperti tax allowance dan tax holiday, pembebasan bea masuk barang modal, serta upaya lainnya seperti penyelenggaraan nilai ekonomi karbon dan pemensiunan dini PLTU.
Sejalan dengan itu, pada 13 September 2022 pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2022 tentang percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Aturan tersebut diharapkan dapat meningkatkan investasi dan mempercepat pencapaian target bauran energi terbarukan dalam bauran energi nasional serta penurunan emisi gas rumah kaca.
Upaya-upaya di atas di apresiasi. Namun tanpa komitmen untuk menindaklanjuti berbagai persoalan di atas, pemenuhan investasi EBT bisa jadi jauh dari harapan.
Pengembangan ekosistem investasi yang ramah terhadap pembangkit listrik ramah lingkungan diperlukan untuk mendukung agenda global dalam menahan laju peningkatan suhu bumi dan menurunnya tingkat keanekaragaman hayati. Dengan meningkatkan investasi pembangkit listrik energi bersih, Indonesia akan semakin berperan dalam menahan laju perubahan iklim serta ancaman terhadap keanekaragaman hayati.![]()
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!