Studi Ungkap Banyak Orang Ditolak Kerja karena Diskriminasi
📅 Rabu, 08 Feb 2023, 09:20 WIB | Oleh: SulianaKedua, skills mismatch seolah menempatkan keahlian sebagai satu-satunya faktor yang berkontribusi pada kesuksesan karir. Pandangan ini mengabaikan faktor lain seperti gender, ras, agama, dan terutama kelas ekonomi, yang juga bisa membantu atau menghambat seseorang di lapangan kerja.
Studi sosiologi tahun 2015 terkait proses rekrutmen profesi-profesi elit - dari bank investasi, perusahaan konsultan, hingga firma hukum papan atas - menunjukkan anak-anak miskin gagal lolos tes pekerjaan sekalipun mereka lulusan kampus ternama.
Perusahaan kerap mendiskriminasi mereka dan kelompok minoritas lainnya dengan menggunakan dalih "cultural fit" atau kesesuaian budaya. Meskipun memiliki kemampuan memadai, banyak dari mereka dianggap tidak mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan budaya di perusahaan elit.
Terkait gender, penjelasan skills mismatch juga kurang dapat menjelaskan terbatasnya partisipasi kerja perempuan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Indonesia, lebih banyak perempuan memiliki ijazah dari perguruan tinggi ketimbang laki-laki, yakni 10,1% dibandingkan 9,3% pada 2021. Namun demikian, partisipasi kerja perempuan jauh lebih terbatas, hanya 54% dibandingkan 84% di antara laki-laki pada 2022.
Dalam pandangan skills mismatch, perempuan yang tidak bekerja, dengan alasan apa pun, bisa dianggap tidak memiliki keahlian kerja yang dibutuhkan pasar. Narasi ini mengabaikan diskriminasi serta kurang ramahnya pasar kerja terhadap perempuan, terutama mereka yang sudah berkeluarga - dari aturan cuti hamil hingga kebijakan fleksibilitas kerja.
Ketiga, diskusi tentang skills mismatch cenderung menutupi praktik-praktik buruk perusahaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Indonesia, masih banyak perusahaan yang tidak menggaji karyawannya secara layak. Praktik kerja kasual atau "prekariat" melalui jalur kemitraan, bukan karyawan tetap, juga semakin marak. Ini menyebabkan mereka kehilangan kesempatan mendapatkan jaminan kerja dan sosial yang memadai dari perusahaan.
Praktik-praktik ini semakin menjamur dengan berjalannya Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang dianggap lebih berpihak pada pengusaha. Dalam sistem yang cenderung lebih menguntungkan pengusaha, sangat mudah dipahami jika pegawai memilih tidak bekerja ketimbang bekerja dengan imbalan yang jauh dari kata memadai.
Narasi yang berbahaya
Selain tak sepenuhnya menjelaskan isu pengangguran, narasi tunggal skills mismatch punya dampak berbahaya.
Seperti praktik-praktik umum dalam sistem neoliberal di mana ada pergeseran tanggung jawab negara ke warga - biasa disebut sebagai "responsibilization" - narasi skills mismatch menempatkan pelamar kerja sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas karier mereka atau sebagai sumber kesalahan atas masalah yang bersifat struktural (luas, mengakar, dan dilanggengkan oleh sistem) seperti di atas.
Mereka yang kesulitan mencari kerja tidak hanya mendapatkan stigma buruk dari masyarakat, namun juga kerap menyalahkan diri mereka sendiri.
Dalam bukunya, Flawed System/Flawed Self: Job Searching and Unemployment Experiences (2013), sosiolog Ofer Sharone menggambarkan internalisasi kegagalan sebagai hal umum pada kelompok pengangguran - apalagi di daerah tempat industri, produk, atau buku self-help tumbuh subur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!