Studi Ungkap Banyak Orang Ditolak Kerja karena Diskriminasi
📅 Rabu, 08 Feb 2023, 09:20 WIB | Oleh: Suliana
Doc: ANTARA FOTO/Aji Setyawan
"10 keahlian yang dibutuhkan lapangan kerja, mari pelajari!"
"Tingkatkan kemampuan demi karir cemerlang!"
"Sukses di tempat kerja ada di tangan Anda!"
Pelamar kerja atau lulusan baru pasti sering disodorkan jargon seperti itu agar bisa meraih karier impian dan menghindari pengangguran.
Selain faktor pandemi, banyak pihak termasuk praktisi dan masyarakat percaya bahwa penyebab utama pengangguran adalah apa yang disebut dengan "skills mismatch". Ini diartikan sebagai ketidakcocokan keahlian dari para pelamar kerja - baik dianggap kurang ahli atau punya keahlian yang beda dengan kebutuhan pasar kerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Narasi skills mismatch, atau beberapa orang memakai istilah "employability" (potensi pelamar untuk direkrut), kini makin gencar digunakan di negara berkembang maupun negara maju untuk menjelaskan isu pengangguran. Lembaga internasional seperti Bank Dunia atau Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) bahkan rajin menggaungkan konsep ini.
Meski mengasah keahlian adalah hal yang bermanfaat, dan meski skills mismatch terdengar masuk akal - bahwa banyaknya pekerja yang belum memiliki keahlian yang tepat membuat angka rekrutmen menjadi rendah - konsep tersebut tidak sepenuhnya dapat menjelaskan isu pengangguran.
Pada Agustus 2022, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pengangguran di Indonesia mencapai 8,42 juta orang. Angka ini bertambah sekitar 200 ribu orang dari enam bulan sebelumnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tapi menariknya, angka tersebut didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) - yang harusnya telah dibekali keahlian vokasi khusus untuk dunia kerja.
Alih-alih menjelaskan, narasi tunggal skills mismatch ini berpotensi menempatkan pelamar kerja, khususnya mereka dari kelompok miskin dan marginal, dalam posisi yang semakin rentan dan terus menuai stigma. Di sisi lain, praktik-praktik buruk perusahaan justru terus dinormalisasi.
'Keahlian rendah' sebagai kambing hitam pengangguran: mengapa ini mitos
Pertama, skills mismatch cenderung mengindividualiasi isu pengangguran. Artinya, pengangguran seolah terjadi semata karena pelamar kerja dianggap tidak memiliki kemampuan sesuai lapangan kerja - bukan karena terbatasnya lapangan kerja layak.
Dalam narasi ini, jika lowongan kerja terbatas, individu kemudian dituntut berwirausaha.
Di Indonesia, baru-baru ini, banyak perusahaan ramai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawannya. Banyak start-up yang digadang-gadang menjadi bentuk inovasi ekonomi untuk membuka lapangan kerja baru, justru terjebak tekanan finansial. PHK yang terjadi baru-baru ini diprediksi terus terjadi pada tahun 2023.
Sayangnya, meskipun PHK merupakan hal umum di Indonesia, termasuk selama pandemi, narasi skills mismatch tetap dominan dalam bahasan pengangguran. Narasi tersebut bahkan bisa menjustifikasi keputusan perusahaan untuk melakukan PHK ke karyawannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!