Pertanian Pangan Kita Melawan Alam
📅 Sabtu, 04 Feb 2023, 09:50 WIB | Oleh: Tim RedaksiApakah pola pengembangan yang melawan alam ini yang membuat impor pangan kita tinggi?
Iya benar. Saat ini, fokus pemerintah untuk pangan pada di tiga komoditas pangan, yaitu padi, jagung, kedelai (pajale), utamanya pada beras karena konsumsi masyarakat Indonesia akan beras sangat tinggi, bahkan tertinggi di Asia Tenggara, yaitu 139 kg per orang per tahun. Sementara Malaysia, Korea, dan Thailand misalnya, hanya 70 kg beras per orang per tahun. Setelah dilakukan program diversifikasi pangan pun konsumsi beras kita tetap masih tinggi, yaitu sekitar 90-120 kg per kapita per tahun. Penurunan tersebut diharapkan masyarakat beralih ke diversifikasi pangan, namun kenyatannya banyak beralih ke terigu. Kita dapat lihat sekarang ini orang-orang sarapan banyak yang beralih ke roti dan mi.
Untuk memenuhi kecukupan kebutuhan akan beras, pemerintah semaksimal mungkin berusaha dengan mengembangkan teknologi mekanisasi, intensifikasi, dan bahkan ekstensifikasi dengan membuka beberapa lokasi food estate, meskipun belum berhasil. Namun, kondisi kesuburan wilayah di seluruh Indonesia berbeda-beda. Kesuburan dan produktivitas paling tinggi untuk komoditas beras adalah di Jawa dan Bali, karena banyak dikelilingi gunung-gunung yang menyuburkan tanah. Sehingga produktivitas yang tinggi di beberapa wilayah harus membantu memasok beras kepada wilayah-wilayah yang kurang subur, bahkan wilayah yang tandus sekalipun. Oleh karena itu, apabila di musim paceklik dan didukung dengan terjadinya bencana, mau tidak mau pemerintah melakukan impor beras untuk menjaga keamanan dan kestabilan negara.
Tadi disampaikan kita memiliki sekitar 77 jenis tanaman lokal yang mengandung karbohidrat. Apakah pangan lokal itu dijamin lebih aman dibanding pangan luar?
Sebaiknya Anda baca juga:
Oo … tentu. Namanya saja pangan lokal, pasti berasal dari lokal daerah setempat. Namanya pangan lokal, dari aspek lingkungan itu pasti tumbuh subur sudah sesuai dengan kondisi alam lingkungan setempat, baik cuacanya, iklimnya, kesuburan tanahnya, kondisi airnya. Di era perubahan iklim ini, tanaman lokallah yang paling cocok dikembangkan dan paling membantu kita dalam keadaan urgen sekalipun. Seperti halnya pada saat Covid-19 kemarin, dalam keadaan genting, kita tidak ada pergerakan, stay di rumah, tidak ada kegiatan ekspor-impor, kegitan transportasi-distribusi terbatas, tapi kita semua perlu makan. Pahlawan kita pada saat itu salah satunya adalah petani. Muncul kekhawatiran akan kekurangan beras pada saat itu. Dalam keadaaan urgen tersebut maka tanaman pangan lokal muncul untuk menenangkan kita. Pada saat itu, Menteri Pertanian menyampaikan pesan bahwa, "Tenang, kita tidak akan kekurangan pangan, kita punya cadangan sagu". Namun sering berjalannya waktu. .. nama sagu sudah berangsur tak terdengar, beberapa tahun kemudian muncul nama sSorghum … sepertinya nasibnya akan sama nama sagu yang pernah disebut-sebut sebelumnya.
Pangan lokal, selain aman dari aspek lingkungan, ia juga aman bagi tubuh kita. Pangan lokal yang dulunya juga menjadi makanan pokok nenek moyang kita, mikroba dalam pencernaan nenek moyang kita diturunkan kepada generasi turunannya. Jadi, pangan lokal paling cocok dengan pencernaan tubuh kita.

Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!