Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pertanian Pangan Kita Melawan Alam

📅 Sabtu, 04 Feb 2023, 09:50 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Ya seperti yang kita alami saat ini, kita membutuhkan banyak pupuk untuk persawahan padi, pestisida, herbisida, bibit unggul. Muncul berbagai hama dan penyakit tanaman padi. Belum lagi kalau di musim kemarau akan terjadi kekeringan, begitu pula pada musim penghujan akan terjadi banjir. Sehingga sering kali mengakibatkan gagal panen karena kekeringan dan banjir, serta karena hama dan penyakit tanaman padi. Hal ini terjadi karena kita melawan alam. Ditambah lagi dengan kondisi perubahan iklim yang terus berlanjut.

Bisa dijelaskan lebih jauh mengenai vegetasi hutan hujan tropis Indonesia?

Kondisi vegetasi hutan tropis di Indonesia, dengan akar-akar pohon yang kuat, serta tutupan kanopi dari pohon sangat berfungsi dengan dua musim di Indonesia. Apabila musim penghujan, akar-akar pohon di vegetasi hutan hujan tropis akan menyerap dan menahan air di dalam tanah sehingga tidak menimbulkan banjir dan tanah longsor; dan apabila musim kemarau, vegetasi hutan hujan tropis tersebut akan mengeluarkan air sedikit demi sedikit untuk kepentingan makhluk hidup di sekitarnya. Inilah anugerah Allah Yang Maha Kuasa untuk kemakmuran bangsa Indonesia. Tapi karena kita mengubah alam, dari vegetasi hutan hujan tropis ke persawahan monokultur maka akar-akar tanaman padi tidak mampu menahan air hujan di waktu musim hujan dan mengeluarkan air di saat musim kemarau seperti fungsi vegetasi hutan hujan tropis, karena akar-akar padi adalah akar serabut pendek yang tidak mampu untuk menahan dan menyimpan air hujan dalam jumlah besar.

Bagaimana dengan diversifikasi pangan itu sendiri?

Pada zaman nenek moyang kita, diversifikasi pangan sudah berjalan sesuai dengan kekayaan alam yang tumbuh disekitarnya. Sebagai contoh, di Gunung Kidul, Jawa Tengah, tumbuh subur tanaman singkong, maka makanan pokok mereka pada umumnya adalah singkong yang diolah menjadi gaplek dan dibuat menjadi tiwul sebagai sumber karbohidrat untuk makanan pokok mereka. Kemudian di wilayah Indonesia Bagian Timur, banyak dijumpai pohon sagu di hutan, maka makanan pokok mereka adalah sagu diolah menjadi papeda, kapurung, sinoli, dan onyop. Di Papua pegunungan, tumbuh subur aneka umbi-imbian, maka makanan pokok mereka adalah umbi-umbian yang mereka peroleh dari dalam hutan yang subur. Kita memiliki sekitar 77 jenis tanaman sumber peroleh dari hutan yang subur. Begitu pula di Nusa Tenggara Timur (NTT), banyak tumbuh sorghum, maka masyarkaat di sekitar sudah terbiasa konsumsi beras sorghum, atau olahan dari tepung sorghum.

Wah, makin menarik membahas soal potensi diversifikasi pangan ini?

Betul. Jadi kita tidak hanya tergantung pada satu macam produk makanan pokok, tapi beraneka macam. Kita memiliki banyak pilihan dan hampir di semua daerah memiliki potensi pangan yang luar biasa sebagaimana telah disebut di atas.

Lalu, bagaimana ceritanya kok kita akhirnya bergantung pada satu produk pangan saja seperti beras?

Nah… ini menarik dan ceritanya juga cukup panjang. Seiring dengan berjalannya waktu, untuk menjaga ketahanan pangan, keamanan nasional, ketahanan nasional, maka muncullah program beras untuk orang miskin (Raskin) yang dibagikan dari pemerintah kepada yang berhak. Akhirnya, semua warga Indonesia didorong mengonsumsi beras, sepeti mengabaikan potensi pangan di daerah-daerah tadi. Dari sinilah cikal bakal awal ketergantungan pangan kita pada beras. Karena masyarakat yang dulunya konsumsi pangannya tergantung dari komoditas alam di sekitarnya, pelan-pelan diubah menjadi konsumsi beras melalui program Raskin.

Wah… wah… dampaknya parah juga ya?

Ya. Saat ini ketergantungan kita terhadap beras sangat tinggi, sehingga pemerintah sering kerepotan untuk memenuhi kebutuhan beras. Bukan hanya beras, tapi ketergantungan kita terhadap gandum juga sangat tinggi. Kita menjadi importir gandum terbesar di dunia, mengalahkan Mesir yang dulunya adalah importir gandum terbesar dunia. Tepung terigu yang berasal dari gandum, mayoritas di Indonesia digunakan untuk bahan membuat mi, roti dan biskuit. Salah satu produk mi instan di Indonesia, tahun kemarin adalah ulang tahun yang ke-50, bahkan restoran waralaba dari Amerika juga tahun kemarin ulang tahun yang ke-30. Jadi, kita bisa sadari bahwa konsumsi gandum kita sudah setengah abad, mengalahkan makanan pokok dari nenek moyang kita yang sudah ribuan tahun, hanya tergeser dengan produk komoditas pendatang dari luar negeri yang usianya baru 50-an tahun masuk di Indonesia. Hal ini juga merupakan bentuk kapitalisme di bidang pangan di mana masyarakat kita sangat cinta dan bangga sekali dengan produk mi instan tersebut, seolah-olah murni produk kita sendiri, namun bahan dasarnya 100 persen impor, yaitu tepung terigu yang berasal dari gandum.

Ke depan, bagaimana soal konsumsi gandum ini?

Kaum milenial saat ini terbagi menjadi dua bagian, yang satu ke-Barat-Barat-an; dan satunya ke-Korea-Korea-an. Untuk yang ke-Barat-Barata-an, mereka senang dengan makan roti seperti burger dan produk-produk roti lainnya. Hal ini dapat dilihat beberapa hari yang lalu, ada salah satu toko roti yang merayakan ulang tahun ke-45 memberikan diskon harga sebesar 45 persen untuk semua produk selama satu hari. Antrean di semua toko di seluruh wilayah di Indonesia antre panjang. Hal ini menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap roti masih tinggi. Sedangkan kelompok satunya adalah kelompok yang gandrung dengan K-Pop, K-fashion, dan Drama Korea (Drakor) yang di dalamnya banyak disisipkan iklan-iklan makanan Korea Selatan, dan kelompok milenial ini sangat suka dengan makanan Korea Selatan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.