Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Populasi Tiongkok Menyusut, Hasil dari Gagalnya Program KB

📅 Kamis, 02 Feb 2023, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Namun, perubahan-perubahan kebijakan yang dilakukan tampaknya belum cukup, dan sudah terlambat. Banyak ahli - di Cina dan di negara lain - berpendapat bahwa penghapusan kebijakan satu anak sengaja diberlakukan terlambat satu dekade untuk mempengaruhi kecepatan pertumbuhan penduduk.

Dampak penerapan kebijakan keluarga berencana yang baru juga masih belum terlihat. Setelah berpuluh-puluh tahun mempromosikan prinsip keluarga inti hanya terdiri dari tiga orang, kebijakan satu anak telah mengakar kuat dalam masyarakat Cina. Terlebih lagi, biaya pendidikan, perumahan, dan perkawinan pun meningkat. Banyak keluarga menganggap bahwa memiliki banyak anak terlalu mahal.

Bagi beberapa ahli yang telah memprediksi, penurunan populasi ini terjadi lebih cepat dari yang mereka perkirakan. Salah satu alasannya mungkin karena pandemi COVID-19 yang membuat keluarga enggan memiliki anak lagi. Namun efek pandemi sulit dinilai. Data tentang kematian terkait COVID-19 di Cina juga tidak dapat diandalkan.

Apa artinya bagi dunia?

Ketika lebih banyak orang hidup lebih lama - dan lebih sedikit bayi yang lahir - akan ada dua konsekuensi: jumlah tenaga kerja yang menyusut dan biaya yang meningkat untuk orang-orang di usia tua.

Pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat merupakan hasil dari besarnya jumlah tenaga kerja bergaji murah. Dengan lebih sedikit pekerja yang tersedia dan gerakan global untuk memisahkan diri dari Cina, sejumlah perusahaan kini memindahkan produksinya ke negara lain. Hal ini jelas mengancam pertumbuhan ekonomi Cina yang saat ini sedang bertransisi dari ekonomi padat karya ke ekonomi padat pengetahuan.

Kekhawatiran lain yang berkembang adalah bagaimana merawat populasi lanjut usia (lansia) yang meningkat cepat. Banyak prediksi mengungkapkan bahwa pada tahun 2079 akan ada lebih banyak penduduk Cina berusia di luar angkatan kerja daripada usia angkatan kerja. Bahkan jika penuaan penduduk berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan, biaya pensiun, kesehatan dan perawatan sosial tetap menjadi beban berat bagi pembangunan ekonomi, kecuali jika produktivitas meningkat.

Cina tidak sendirian dalam menghadapi masalah populasi semacam ini. Negara-negara Asia Timur lainnya, seperti Jepang dan Korea Selatan, juga menghadapi penuaan populasi yang cepat. Banyak pula negara Eropa, termasuk Jerman dan Italia, yang telah menghadapi penurunan populasi selama beberapa dekade.

Namun, situasi di Cina berbeda. Pertama, negara ini menghadapi penuaan dan penurunan populasi ketika masih menjadi negara berpenghasilan menengah, sehingga sulit untuk membiayai perubahan sosial-ekonominya.

Kedua, dari sudut pandang internasional, Cina telah mengambil posisi sentral dalam rantai pasokan global - sehingga apa pun yang memengaruhi negara ini akan berdampak langsung pada ekonomi dunia. Dengan demikian, kisah penurunan populasi Cina ini memiliki implikasi yang sangat besar bagi posisi Cina di dunia dan ekonomi global pada umumnya.The Conversation

Christina Maags, Lecturer in Chinese Studies , University of Sheffield

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.