Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Korea Selatan Laporkan Kematian Pertama Akibat Amoeba Pemakan Otak

📅 Minggu, 01 Jan 2023, 08:01 WIB | Oleh:
Korea Selatan Laporkan Kematian Pertama Akibat Amoeba Pemakan Otak Doc: CDC
Ket. amoeba pemakan otak atau naegleria fowleri.

Korea Selatan (Korsel) mengidentifikasi kematian pertama akibat infeksi amoeba pemakan otak atau naegleria fowleri.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) pada Senin (26/12) mengonfirmasi kematian seorang pria berusia 50-an usai diduga terinfeksi amoeba pemakan otak ketika berada di Thailand. Ia dilaporkan meninggal 10 hari setelah menunjukkan gejala infeksi langka namun sangat mematikan tersebut.

Pria Korea yang sempat tinggal di Thailand selama empat bulan sebelum akhirnya memasuki Korea pada 10 Desember itu, menunjukkan gejala meningitis, seperti sakit kepala, demam, muntah, bicara cadel dan leher kaku pada malam kedatangannya.

Ia kemudian dipindahkan ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun nahas, pria itu harus meregang nyawa pada 21 Desember.

Mengutip Korea Times, otoritas kesehatan Korea lalu melakukan tes lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematiannya, yang ditemukan terjadi akibat infeksi naegleria fowleri. Kasus ini sekaligus menjadi infeksi pertama amoeba pemakan otak di negeri Ginseng tersebut.

Walau diduga terinfeksi di Thailand, KDCA belum menemukan rute penularan yang tepat, tetapi mencatat bahwa berenang di air yang terkontaminasi atau membilas hidung dengan air yang tidak aman adalah penyebab utama infeksi naegleria fowleri.

Ahli mikrobiologi di Universitas Ajou, Shin Ho-joon mengatakan begitu seorang pasien terinfeksi naegleria fowleri, kemungkinan untuk bertahan hidup sangat rendah karena penyakit ini berkembang pesat. Diagnosa pencegahan infeksi juga sangat sulit karena gejala awal mirip dengan flu biasa.

"Dan pada saat pasien menunjukkan gejala yang lebih terlihat seperti leher kaku, tidak sadarkan diri, koma atau kematian dapat terjadi di hari-hari berikutnya. Itulah sebabnya dalam banyak kasus, infeksi terdeteksi setelah kematian" katanya kepada Korea Times.

Kabar baiknya, Shin mengatakan warga Korea tidak perlu terlalu khawatir dengan kasus amoeba pemakan otak pertama karena parasit tersebut tidak mungkin ada di negara tersebut.

Namun, dia memperingatkan bahwa orang yang bepergian ke luar negeri harus berhati-hati karena jumlah infeksi yang meningkat di negara-negara seperti Amerika Serikat, negara-negara Asia Tenggara, dan beberapa negara Eropa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Kemenkes Perluas Cek Kesehatan Gratis

19 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenkes Perluas Cek Keseha...

Aldila Tak Mampu Menerobos Semifinal WTA Ningbo

38 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Aldila Tak Mampu Menerobos ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.