Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Presiden: RI Tidak Boleh Bergantung pada Gandum dan Jagung Impor

📅 Jumat, 03 Jun 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Presiden: RI Tidak Boleh Bergantung pada Gandum dan Jagung Impor Doc: BPMI SETPRES/LAILY RACHEV
Ket. TINJAU LAHAN SORGUM I Presiden Joko Widodo meninjau lahan sorgum saat kunjungan di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (2/6). Tanaman sorgum yang menjadi alternatif sumber pangan selain beras dan jagung guna menghadapi krisis pangan seperti yang telah diperingatkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO).

» Pengembangan bahan pangan substitusi impor dapat menekan praktik rente yang merugikan petani.

» Banyak pangan lokal bila dikembangkan secara serius bisa menggantikan beras dan jagung.

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan kerjanya ke Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (2/6), mengatakan di tengah krisis pangan global, Indonesia sebenarnya masih memiliki banyak alternatif yang bisa dilakukan, salah satunya dengan diversifikasi pangan.

"Diversifikasi pangan agar tidak hanya bergantung pada beras, karena kita memiliki jagung, memiliki sagu, dan juga sebetulnya tanaman lama kita, yang ketiga adalah sorgum," kata Presiden dalam keterangan pers melalui video yang diunggah akun YouTube Sekretariat Presiden.

Saat ini, kata Jokowi, harga pangan dunia sudah meningkat. Sebab itu, Indonesia harus punya rencana besar menghadapi krisis pangan, seperti yang diperingatkan organisasi pangan dunia FAO.

Dalam kesempatan itu, Kepala Negara berencana memperluas area lahan tanaman sorgum di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) guna mengurangi kebergantungan impor gandum dan jagung sebagai sumber pangan.

"Saya perintahkan kepada gubernur dan bupati untuk betul-betul memastikan berapa luasan lahan yang bisa dipakai untuk menanam sorgum sehingga kita tidak bergantung kepada gandum, tidak bergantung pada jagung dari impor," tegas Presiden.

Lahan di Kabupaten Sumba, kata Jokowi, pernah ditanami jagung, namun kurang produktif. Oleh sebab itu, lahan dialihkan pada tanaman biji-bijian sorgum. Saat ini, luas lahan sorgum di Kabupaten Sumba Timur mencapai 60 hektare dengan produktivitas sebesar 5 ton per hektare.

Meski masih tergolong uji coba, petani bisa memperoleh pendapatan sekitar 50 juta rupiah per hektare dalam satu tahun atau empat juta rupiah lebih per bulan.

Presiden pun telah memerintahkan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, dan Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing, untuk memperluas lahan yang bisa ditanami sorgum.

"Kita akan perluas tanaman sorgum ini di Provinsi NTT dengan harapan kita miliki alternatif pangan dalam rangka krisis pangan dunia. Kalau kita ada berlebih, ada stok, justru ini yang akan kita ekspor," kata Presiden.

Jokowi juga mengapresiasi upaya meningkatkan produktivitas tanaman sorgum di wilayah tersebut karena selain meningkatkan pendapatan petani, juga menyerap banyak tenaga kerja.

"Kita melihat sendiri hasilnya sangat baik, secara keekonomian juga masuk, bisa merekrut banyak sekali tenaga kerja," kata Presiden.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ekonomi
OJK Terbitkan Aturan Baru b...

OJK Perkuat Ekosistem Keuangan Digital

4 jam yang lalu | Ilham Sudrajat

Ekonomi
OJK Perkuat Ekosistem Keuan...
Di Balik Panen Melimpah Badui, Ada Warisan Bertani yang Terjaga Lintas Generasi

Di Balik Panen Melimpah Badui, Ada Warisan Bertani yang Terjaga Lintas Generasi

04 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.