Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pendar Warna Kehijauan, Peneliti Jelaskan Penyebab Fenomena yang Terjadi di Langit Menoreh

📅 Senin, 04 Okt 2021, 13:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pendar Warna Kehijauan, Peneliti Jelaskan Penyebab Fenomena yang Terjadi di Langit Menoreh Doc: ANTARA/Sutarmi
Ket. Suasana objek wisata di kawasan Bukit Menoreh di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogfyakarta.

Jakarta - Peneliti klimatologi dari Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menjelaskan penyebab fenomena yang terjadi di langit di perbukitan Menoreh yang ada di wilayah Jawa Tengah.

Menurut dia, pendarwarna kehijauan di langit Menoreh muncul karena adanya gelombang gravitasi atmosfer.

"Langit glowing(berpendar) dicirikan oleh warna kehijauan pada langit di malam hari yang terjadi karena keberadaan gelombang gravitasi atmosfer," kata Ermasebagaimana dikutip dalam siaran pers LAPAN yang diterima di Jakarta, Senin.

Erma menjelaskan, gelombang gravitasi atmosferadalah gelombang gravitasi yang terdapat di atmosfer dengan skala planet yang dapat terbentuk karena suatu gangguan di atmosfer pada suatu lokasi tertentu sehingga mengganggu lapisan-lapisan di atmosfer, mulai dari permukaan hingga lapisan yang paling tinggi di atmosfer seperti mesosfer.

Menurut dia, gangguan di atmosfer permukaan atau lapisan troposfer yang dapat membangkitkan gelombang gravitasi atmosferadalah aktivitas konvektif yang menghasilkan awan konveksi yang tinggi.

Selain itu, Ermamengemukakan kemungkinan kaitan kemunculan pendar berwarna hijau di langit Menorehdengan aktivitas badai skala meso yang mengganggu lapisan-lapisan di atmosfer sehingga membentuk gelombang gravitasi atmosfer (GGA).

Hasil pengamatan terhadap data dari Satellite-Based Disaster Early Warning System (SADEWA) BRIN menunjukkan bahwa badai skala meso yang kuat dan meluas terbentuk di atas lautan sekitar 200 kilometer dari lokasi, yakni di Selat Karimata, sebelah barat Kalimantan.

Badai skala meso tersebut sepanjang hari bergerak seperti pendulum, terbentuk di Sumaterapada pagi hari lalu menuju timur ke arah Kalimantandan melintasi laut Tiongkok Selatan hingga sore hari.

Pada malam hari, badai itu bergerak kembali dari Kalimantan menuju ke laut dan menetap di sana hingga tengah malam.

"Aktivitas badai skala meso yang bergerak bolak-balik seperti pendulum ini kemungkinan yang telah menjadi pengganggu bagi lapisan-lapisan di atmosfer sehingga terbentuklah GGA yang sangat kuat dan penampakannya dapat dilihat di suatu lokasi di Jawa Tengah," kataErma.

Ia mengemukakan, hasil pengamatan citra pada langit yang berpendarseharusnya dapat dikumpulkan dari berbagai arah atau sudut sehingga terbentuk citra langit berpendaryang lengkap sebagaimana yang dilaporkan oleh Smith dan rekannya pada 2020 di Argentina.

Laporan ilmiah berkaitan dengan pendar langit di Argentinatelah diterbitkan oleh American Geophysical Union dalam Journal of the Geophyisical Research Atmosphere pada 16 November 2020.

Menurut laporan tersebut, fenomena langit berpendaryang dapat dilihat oleh mata telanjang terjadi di Argentina, Amerika Selatan, pada 17 Maret 2020.

Laporan itu menyebutkan bahwa gelombang gravitasi atmosferyang tampak berwarna kehijauan berkaitan dengan aktivitas badai skala meso yang terjadi sekitar 100 kilometer dari tempat langit yang berpendar dapat diamati dengan mata telanjang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

30 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

39 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.