Seto Mulyadi Orang Tua Harus Kreatif dalam Mendampingi Anak Belajar di Rumah
📅 Sabtu, 13 Jun 2020, 03:00 WIB | Oleh: Tim PenulisGara-gara pandemi Covid-19, orang tua juga semakin terlibat dalam pembelajaran anak. Bagaimana agar mereka bisa memastikan pembelajarannya?
Pada masa pandemi Covid-19 ini, anak harus belajar dengan efektif dan orang tua harus benar-benar memastikannya. Belajar atau pendidikan ini harus mengasyikkan dan menyenangkan. Ini juga bagian dari pemenuhan hak anak. Perlu diketahui juga bahwa usia yang termasuk anak-anak di bawah 18 tahun. Artinya, siswa SMA juga masih termasuk anak-anak.
Ayah-ibu bisa membuat metode mendampingi belajar anak agar menyenangkan. Pada dasarnya, anak-anak kan senang belajar, tapi juga gemar bergerak. Suasana belajar di rumah juga jangan terlalu kaku. Jangan terlalu stres. Misalnya, dapat disisipi acara bermain bahkan untuk materi-materi yang sifatnya kaku.
Kadang-kadang kita sekarang terpaksa belajar dengan alat teknologi canggih. Layar televisi, kemudian laptop, mungkin juga sinarnya kalau terus-menerus juga kurang baik untuk kesehatan mata. Karena situasi demikian, yang penting kita siasati dengan cara lebih kreatif. Misalnya, dipadukan dengan gerakan-gerakan dan nyanyian. Walaupun penuh dengan materi yang harus dipelajari, kalau dibawakan dengan cara menyenangkan mudah-mudahan semuanya juga bisa lebih efektif.
Saat ini, pembelajaran juga menyesuaikan dengan kondisi kasus Covid-19 di tiap daerah. Untuk beberapa daerah yang memang bukan zona merah, orang tua bisa mengasuh dan mengajar dengan mengajak bermain di sekitar rumah. Ini penting juga agar anak tidak kehilangan sosialisasi.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan tahun ajaran baru dimulai pertengahan Juli, tapi tetap dengan metode belajar dari rumah. Bagaimana tanggapan Bapak?
Perlu disadari, perbedaan antara dimulai kurikulum tahun ajaran baru dan mulai masuk sekolah. Belajarnya sementara ini masih di rumah dulu karena memang situasinya belum menentu. Kemendikbud juga harus mendengar masukan-masukan berbagai kalangan pemangku kepentingan pendidikan, termasuk organisasi perlindungan anak dan kedokteran. Dari situ, nanti baru betul-betul diputuskan. Kalau data sudah melandai dan aman, baru mau masuk sekolah. Tapi kalau belum, ya tetap di rumah saja dulu.
Yang terpenting kesehatan dan keselamatan anak. Jangan sampai anak-anak setelah bertemu teman-teman justru membuat korban bertambah banyak. Saya kira itu harus diperhitungkan semuanya.
Seluruh kebijakan yang ditetapkan pemerintah harus menghargai hak keluarga seperti orang tua dan anak-anak. Kalau memang masih takut, masih penuh pertimbangan dan sebagainya, sehingga belum juga datang ke sekolah, tetap perlu diapresiasi, meskipun daerahnya berzona hijau. Mungkin saja sebuah sekolah berada di zona hijau, tetapi guru atau yang lain dari luar daerah hijau. Ini bisa terjadi penularan.
Pembelajarannya juga mesti diubah. Penguatan mata pelajaran pada siswa tidak lagi sesuai. Justru kebutuhannya harus berpusat pada siswa atau student center learning. Istilahnya, transformatif atau siswa mampu mengubah diri sendiri. Kita jadi tahu kesadaran dan motivasinya dalam belajar.
Untuk lingkungan khususnya orang tua lebih menjadi fasilitator dengan memfasilitasi sumber-sumber belajar bagi anak-anak dan memotivasi. Ini kan sebenarnya metode yang sudah digunakan di Homeschooling yang bisa juga diterapkan selama pembelajaran nanti.
Perlu ada penyesuaian kurikulum?
Pembelajaran harus tetap berjalan dengan penyesuaian kurikulum. Setiap anak tentu merasakan jenuh atau bosan selama belajar dari rumah akibat pandemi global tersebut. Oleh karena itu, guru, sekolah, orang tua, serta pemangku dunia pendidikan harus berpikir mencari cara paling efektif penerapan kurikulum. Jadi, kita semua harus memikirkan cara "mengakali" semua itu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!