Achmad Yurianto : Teror Informasi Jadi Tantangan Atasi Korona
📅 Sabtu, 14 Mar 2020, 03:00 WIB | Oleh: Tim PenulisBeberapa negara mengecek secara acak. Kenapa tidak dilakukan?
Kita belum memiliki kebijakan memeriksa secara acak. Kita tidak ingin membuat gaduh dengan semua orang diperiksa. Mengambil spesimen itu adalah mengambil usap lidi pada dinding belakang hidung dan mulut. Ini bukan metode nyaman.
Jadi ada indikasi yang harus kita lakukan yaitu apakah orang itu masuk dalam tracing kami atau dia pernah bepergian dari negaranegara dengan jumlah penyakit Covid-19 yang banyak. Jadi penekannya bukan sebanyak mungkin orang diperiksa, tapi di-tracing. Jadi tidak kemudian tanpa alasan memeriksa.
Ada kemungkinan untuk lockdown atau penutupan area juga?
Kami tidak akan memakai opsi lockdown. Bila suatu wilayah di-lockdown, konsekuensinya kasus (Covid-19) di wilayah itu bisa jadi akan naik dengan cepat. Tapi, keputusan pemerintah tidak melakukan lockdown sebuah wilayah, tidak bersifat mutlak. Dalam waktu dekat, pejabat pada tingkat kementerian akan melaksanakan rapat untuk menentukan langkah selanjutnya demi mengantisipasi penyebaran virus korona.
Terdapat imported case atau kasus dari luar negeri. Bagaimana antisipasinya?
Perlu diketahui ada juga orang yang positif korona dengan kondisi penyakit sebagian besar ringan sedang. Maka dia masuk dalam kondisi tidak panas terlalu tinggi dan tidak akan terdeteksi oleh thermal scan. Dalam perkembangannya ada perubahan pada karakter penularan virus. Jadi orang-orang ini kami beri healt alert card karena thermal scan tidak efektif untuk mengetahui orang yang sakit.
Sempat ada isu kantor dan sekolah harus diliburkan. Kenapa tidak mengambil langkah ini?
Begini, kalau saya manajer satu kantor, lebih bijak meminta orang yang ada gejala sakit untuk istirahat dan mengisolasi diri sendiri. Itu sebuah pilihan bijak daripada kantor tutup. Untuk sekolah, kalau libur justru mereka punya waktu main dan sulit untuk dikontrol. Lebih baik adalah edukasi kepada siswa.
Kenapa tidak meniru negara lain dalam penanganan ini?
Kami tetap menggunakan standar dan kriteria dari WHO. Ini bukan yang kami buat. Kenapa kami tidak meniru negara lain seperti Singapura yang bisa dibilang ideal, karena kami tahu kondisi Indonesia berbeda dengan Singapura. Kemarin pas ada satu kasus ter-publish dan pasien depresi. Kemudian kami menyebutkan penularan dari satu negara dan negaranya didiskriminasi.
Tidak semua sistem yang ada di Singapura bagus bisa diimplementasikan di sini. Pemerintah sengaja tidak membuka situs khusus pengumuman orang-orang yang sedang dilacak¬ terkait Covid-19, seperti yang dilakukan negara lain seperti Singapura, untuk mengantisipasi timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan. Pergerakan masyarakat kita juga jauh lebih tinggi.
Kalau terbuka diumumkan, bisa kabur duluan. Seperti kejadian kemarin, ada yang pindah ke luar kota, kami mengejar setengah mati. Adapun yang paling baik memerankan tokoh komunitas, masyarakat, untuk menjadi kekuatan dasar dan menjadi cegah tangkal. Berarti edukasi yang menjadi penting.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!