Achmad Yurianto : Teror Informasi Jadi Tantangan Atasi Korona
📅 Sabtu, 14 Mar 2020, 03:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ISTIMEWA
Dalam penanganan Covid-19, pemerintah terkesan lamban dan kurang melibatkan pemerintah daerah. Selain itu, ada anggapan pemerintah kurang terbuka dalam menyampaikan informasi di masyarakat. Hal tersebut memperluas tantangan penanganan Covid-19 tidak hanya di sektor penanganan kesehatan, tapi juga menghadapi maraknya informasi yang meresahkan masyarakat.
Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan pemerintah dalam menangani masalah korona, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Marup dan Muhammad Umar Fadloli berkesempatan mewawancarai Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan sekaligus Juru Bicara Pemerintah Terkait Covid-19, Achmad Yurianto, dalam beberapa kesempatan terpisah, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.
Seberapa mengkhawatirkan sebenarnya penyakit Covid-19?
Begini, Covid-19 atau Coronavirus disease 2019 itu disebabkan oleh virus bernama SARS Coronavirus Type II. Ini varian-varian dari virus yang menyebabkan influenza, hanya virus baru. Memang penyakit ini menyebabkan kematian. Tapi kalau dipersentasekan kematiannya, penyakit ini tidak lebih mengkhawatirkan dari severe acute respiratory syndrome (SARS) atau middle east respiratory syndrome (MERS).
SARS angka kematiannya hampir 13 persen atau dari 100 orang penderita 13 orang yang meninggal. Sementara MERS relatif banyak yaitu 30 sampai 40 persen. Nah, Covid-19 itu persentase kematiannya hanya dua sampai tiga persen.
Kalau persentase kecil, kenapa masyarakat bisa sampai panik?
Salah satunya adalah penyebaran informasi yang masif sekarang. Dampak buruk dari ini adalah banyaknya yang menyebarkan informasi yang justru membuat panik dan resah masyarakat. Jadi sekarang lebih didominasi oleh teror informasi. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan. Di gejala awal dan penularannya sama seperti influenza. Cara menanganinya sama dengan pencegahan pilek.
Bagaimana langkah pemerintah mengatasi ini?
Kemenkes memperbanyak promosi kesehatan yaitu preventif. Media kita switch, semula jadi teror menjadi kawan.
Masyarakat bisa membedakan penyakit ini?
Tidak bisa. Ini kan influenza. Kami bisa menemukan ini korona setelah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium. Karena penyakit ini dari virus baru dan belum ada vaksinnya maka yang bisa dilakukan masyarakat adalah meningkatkan kekebalan tubuh.
Dalam konteks penanganan virus serta penyakitnya, upaya apa yang telah ditingkatkan pemerintah?
Pemerintah menambah jumlah rumah sakit rujukan untuk menangani Covid-19, dari semula 100 menjadi 132 rumah sakit rujukan. Kami juga tengah menyiapkan rumah sakit khusus virus korona. Selain itu, kami menegaskan seluruh pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di Indonesia mampu mendeteksi dini virus Covid-19.
Jadi kalau ada yang menderita gejala Covid-19 bisa memeriksakan diri ke Puskesmas. Kami juga menelusuri atau tracing dengan melacak pihak-pihak yang pernah melakukan kontak dengan terduga atau positif virus korona. Jika tidak, orang yang positif akan menyebarkan virus di masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!