Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sup dalam Kuliner Indonesia

📅 Jumat, 10 Jan 2020, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Gurih dan lezat plus terasa hangat di tubuh. Dalam hal penyajian, sup juga sama seperti soto yang bisa disajikan bersama nasi serta lauk pauk. Sup juga bisa didampingi dengan aneka lauk pauk seperti perkedel kentang, tempe atau kerupuk.

Tak lupa nasi putih dan juga sambal. Sup di Indonesia sendiri dibagi dalam dua jenis yang masing-masing dibedakan dari kuahnya. Yakni sup bening atau kuah jernih dan sup kental. Sup dengan kuah jernih berasal dari rebusan kaldu daging yang digunakan.

Sup ini hampir umum ditemui pada sajian sup-sup di sejumlah daerah di Indonesia. Kuahnya jernih dengan isian sayuran. Sementara sup dengan kuah kental, biasanya menggunakan tambahan susu ataupun cream pada kaldunya.

Tambahan bahan pengental terkadang diperlukan dengan isian berupa daging atau sayuran seperti wortel. Sup dengan kuah kental ini misalnya zuppa soup atau sup jagung manis yang biasanya hadir dalam menu sajian pesta.

Terinspirasi dari Hidangan Belanda Masih dari buku yang sama disebutkan kehadiran bangsa Belanda di pulau Jawa berperan besar dalam menularkan tradisi kuliner bangsa Belanda ke masyarakat pribumi.

Salah satunya adalah sup yang disebut soep dalam bahasa Belanda yang kemudian lazim di sebuat "sop" oleh masyarakat Jawa. Sup dikalangan Belanda biasanya disajikan dalam kondisi panas sebagai makanan pembuka yang bisa dijadikan sebagai penghangat tubuh. Namun dengan iklim tropis nusantara, akhirnya masyarakat Belanda terbiasa mendinginkan sup terlebih dahulu dan menyantapnya bersama dengan nasi. Karena pergeseran itulah, hingga saat ini sup di kalangan masyarakat Indonesia lebih dikenal sebagai teman nasi yang disantap bersama.tambahan lauk pauknya.

Untuk Pengobatan Kuah yang gurih dengan isian sayuran, membuat sup tak hanya lezat disantap. Apalagi jika disajikan hangat bersama dengan sedikit sambal, sup rasanya bisa membuat mata kembali melek. Dalam buku The Secret of People Who Never Get Sick tahun 2010, Gene Stone mengatakan bahwa sup ayam memang sudah lama dikenal sebagai resep pengobatan sejak zaman mesir kuno hingga abad pertengahan. Bahkan sup ayam sempat di sebut sebagai "pinisilin".

Pasalnya, salah satu dokter Yahudi terkenal pada abad ke 12, Maimonides menggunakan sup ayam sebagai menu utama untuk mengobati sejumlah penyakit seperti wasir, sembelit dan kusta.

Sup menjadi hidangan yang sehat,bahkan mungkin memiliki efek kesehatan karna kandungan bahan-bahan yang ada di dalamnya yang dinilai memiliki gizi dan manfaat yang baik bagi tubuh. nik/dariberbagaisumber/R-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Teknologi Makin Canggih, Kenapa Hilirisasi Indonesia Masih Tersendat?
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai kendala hilirisasi; dari ...
  • Ambisi Semikonduktor Nasional Terhalang Ekosistem Industri
    Preview komentar:
    Tantangan mendasar yang dipaparkan secara tajam dalam artikel ...
  • Pemprov Kaltara Dorong UMKM Dilibatkan dan Masuk Kawasan Industri
    Preview komentar:
    Langkah strategis Pemprov Kaltara memfasilitasi UMKM lokal untuk ...
Advertisement
injourney
Advertisement
bni-atasdetailmobile
Advertisement
astra2
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Olahraga
Sabalenka Waspadai Kejutan ...
Olahraga
Barcelona Juara Joan Gamper...

Venus Williams Dapat Wildcard Tampil di US Open 2026

58 menit yang lalu | Benny Mudesta Putra

Olahraga
Venus Williams Dapat Wildca...
Olahraga
Aston Villa Perkuat Skuad, ...
Olahraga
Gol-Gol Menegangkan! Barcel...
Megapolitan
Jakarta Berawan Kamis Pagi,...
Luar Negeri
Pertemuan Menlu China dan K...
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

19 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.