Menakar Potensi Kuliner Nusantara
📅 Kamis, 11 Apr 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim PenulisInovasi Masakan Tradisional
Masih terngiang sebenarnya, bagaimana keseruan berburu makanan di Pucuk Coolinary Festival 2019. Pesan Wahyono, pemilik kedai Sate Buntel Priyayi terhadap makanan tradisional juga menjadi catatan tersendiri.
Menurutnya masakan tradisional adalah perwujudan sejarah bangsa, mengonsumsi makanan khas Tanah Air dianggapnya sama saja seperti mengenang kisah di baliknya. Bisnis Sate Buntel yang sudah ditekuni sejak 2001, merupakan menu makanan kuno di Kota Solo.
"Sate Buntel itu makanan khas Solo, kisah di balik adanya sate ini dulu kan Solo dikenal dengan kota pensiunan, isinya orang tua semua. Jadi jangan heran, sebenarnya sate ini isinya daging kambing cincang kemudian dibungkus dengan jaringan lemak. Ciri khas sate ini teksturnya empuk jadi menjawab keinginan orang tua dulu yang ingin makan sate sebenarnya," cerita Wahyono.
Perlu diketahui, Sate Buntel ternyata termasuk masakan rumit, pasalnya jaringan lemak yang ada pada kambing jumlahnya sangat sedikit, satu ekor kambing lemaknya maksimal hanya bisa untuk 10 tusuk sate buntel.

Itu sebabnya, Wahyono berujar, sampai saat ini dirinya masih bereksperimen untuk menemukan bahan yang pas untuk pengganti jaringan lemak tersebut. "Bahan itu cukup langka, jika di hari libur besar jumlah pembeli meningkat, kadang saya mencari jaringan lemak sampai Yogyakarta. Saya pernah mencoba mengganti jaringan lemak itu dengan rumput laut, campuran tepung dan lain-lainnya, tapi tidak sebagus jaringan lemak. Belum ketemu bahan penggantinya, saya juga sudah konsultasi sana-sini belum menemukan solusi dan masih saya cari tahu sampai saat ini," ungkapnya.
Di tenant lain ada Oseng-oseng Mercon Bu Narti, menu makanan tiga generasi yang berdiri sejak era 1960-an ini adalah salah satu makanan favorit wisatawan ketika berkunjung ke Yogyakarta.
Tips untuk bisa bertahan, selain menjaga cita rasa ialah inovasi. Tak hanya bisa dinikmati di kedainya, yang terletak di Jl KH Ahmad Dahlan Kota Yogyakarta kini Oseng-oseng Mercon Bu Narti juga disajikan dalam bentuk kalengan, seperti sarden.
"Kita saat ini sudah memiliki produk kalengnya, ini kita lakukan untuk merambah ke pusat-pusat oleh-oleh, di samping berjualan di kedai. Alhamdulillah, kami memiliki penikmat setia dari dahulu, sampai sekarang. Ini karena kita sukses menjaga cita rasa, dan mengikuti tren juga sebenarnaya, misalnya menambah rasa makin pedas, karena banyak konsumen yang menyukainya," tandas Pemilik Oseng-oseng Mercon Bu Narti, Dewi Endah Karyani. ima/R-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!