Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Warga Dunia Ingin Banyak Aksi Atasi Perubahan Iklim

📅 Jumat, 21 Jun 2024, 00:01 WIB | Oleh:
Warga Dunia Ingin Banyak Aksi Atasi Perubahan Iklim Doc: ISTIMEWA
Ket. CASSIE FLYNN Direktur Iklim Global UNDP - Hasil-hasil ini merupakan bukti yang tidak dapat disangkal masyarakat di mana pun mendukung tindakan iklim yang berani.

NEW YORK - Menurut sebuah jajak pendapat global terhadap 75.000 peserta, yang diterbitkan pada Rabu (20/6), empat dari setiap lima orang ingin negaranya memperkuat komitmen dalam mengatasi perubahan iklim.

Survei yang dilakukan oleh Program Pembangunan PBB atau UN Development Programme (UNDP), Universitas Oxford dan GeoPoll, mengajukan 15 pertanyaan melalui panggilan telepon secara acak kepada masyarakat di 77 negara yang mewakili 87 persen populasi dunia.

Dikutip dari The Straits Times, temuan utama jajak pendapat yang diberi nama The Peoples' Climate Vote 2024 ini adalah 80 persen responden ingin pemerintah meningkatkan upaya melawan pemanasan global.

"Negara-negara miskin paling banyak memberikan dukungan terhadap hal ini, dengan 89 persen mendukung, meskipun selera makan juga tinggi di negara-negara Kelompok 20 yang kaya (76 persen)," kata survei itu.

Tiongkok (73 persen) dan Amerika Serikat (66 persen), penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, juga melihat mayoritas responden mendukung aksi iklim.

"Ketika para pemimpin dunia memutuskan janji-janji berikutnya berdasarkan Perjanjian Paris pada tahun 2025, hasil-hasil ini merupakan bukti yang tidak dapat disangkal masyarakat di mana pun mendukung tindakan iklim yang berani," kata direktur iklim global UNDP, Cassie Flynn.

Transisi Cepat

Mayoritas responden di 62 dari 77 negara yang disurvei mengatakan mereka mendukung transisi cepat dari bahan bakar fosil ke energi ramah lingkungan.

Negara-negara tersebut termasuk Tiongkok (80 persen) dan Amerika Serikat (54 persen), namun di Russia, hanya 16 persen peserta jajak pendapat yang mendukung.

Kekhawatiran mengenai pemanasan global juga meningkat, menurut survei tersebut, dengan 56 persen mengatakan mereka memikirkan perubahan iklim setidaknya sekali seminggu.

Lebih dari separuh (53 persen) responden mengatakan mereka lebih khawatir terhadap perubahan iklim dibandingkan tahun 2023, dibandingkan dengan 15 persen yang mengatakan mereka tidak terlalu khawatir.

Negara dengan tingkat kecemasan iklim terbesar adalah Fiji, di mana 80 persen penduduknya lebih khawatir dibandingkan tahun lalu, diikuti oleh Afghanistan (78 persen) dan Turki (77 persen).

Arab Saudi mengalami peningkatan ketakutan terhadap perubahan iklim yang paling rendah, dengan 25 persen lebih banyak kekhawatiran, diikuti oleh Russia (34 persen), Republik Ceko (36 persen), dan Tiongkok (39 persen).

Lebih dari dua pertiga responden survei (69 persen) mengatakan pemanasan global telah berdampak pada keputusan hidup mereka, seperti tempat tinggal atau bekerja dan apa yang harus dibeli.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp84.400/...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

43 menit yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.