Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tragedi Badak Kalimantan: Tinggal 2 Ekor Betina, Nyawa Mereka Taruhannya!

📅 Jumat, 29 Agu 2025, 10:35 WIB | Oleh:
Tragedi Badak Kalimantan: Tinggal 2 Ekor Betina, Nyawa Mereka Taruhannya! Doc: BKSDA Kaltim
Ket. Badak Kalimantan yang tersisa di alam.

JAKARTA - Nasib salah satu satwa paling langka di dunia, badak Kalimantan, kini berada di ujung tanduk. Bayangkan, hewan yang dulu merajai hutan rimba Borneo, kini hanya tersisa dua ekor betina. 

Tak ada jantan, tak ada pasangan, hanya sepi dan ancaman yang mengintai. Inilah kisah tragis yang membuat para pegiat lingkungan bekerja mati-matian untuk mencegah kepunahan total.

Di Suaka Badak Kelian (SBK), Kutai Barat, Kalimantan Timur, seekor badak betina bernama Pahu menjadi penghuni tunggal. Ia hidup dalam pengawasan ketat sebagai upaya terakhir menjaga spesies ini. 

Namun ternyata, jauh di belantara Mahakam Ulu, keberadaan seekor badak lain berhasil diungkap melalui kamera jebak. Badak itu diberi nama Pari. Sayangnya, meski hidup bebas, keselamatannya sangat rapuh.

Menurut Kurnia Oktavia Khairani, Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT), Pari harus segera dievakuasi. Deforestasi, aktivitas ilegal, dan ketiadaan pasangan membuatnya seperti hidup dalam “hukuman mati perlahan.” 

Ia menyebut Pari sebagai “badak doom”, hewan yang sendirian tanpa harapan berkembang biak di alam liar.

Maka, penyelamatan Pari ke SBK dianggap misi terakhir untuk menyelamatkan spesies ini. Dengan teknologi reproduksi buatan, peluang munculnya bayi badak Kalimantan masih terbuka, meski kecil. “Sanctuary itu dibuat untuk intensive breeding, supaya ada harapan menambah populasi,” jelas Kurnia.

Prosesnya tak sederhana. Sebelum bertemu Pahu, Pari harus melalui karantina selama tiga bulan di fasilitas khusus. BKSDA Kaltim bersama ALeRT sudah menyiapkan boma (area karantina) serta paddock seluas 20 hektare agar Pari bisa beradaptasi. 

Proses perizinan, dukungan para ahli, hingga keamanan transportasi pun sedang dipersiapkan.

Menurut Ary Wibawanto, Kepala BKSDA Kaltim, saat ini memang baru dua badak yang terkonfirmasi. Namun, ia masih optimis ada individu lain yang bersembunyi di rimba Kalimantan. Lokasi-lokasi potensial seperti kawasan Tabang, Kutai Kartanegara, sedang dipetakan untuk eksplorasi lebih lanjut.

Kisah ini menyadarkan kita: jika Pari gagal diselamatkan, maka pupuslah harapan kelahiran badak Kalimantan di masa depan. Spesies yang pernah jadi penjaga ekosistem hutan ini bisa benar-benar hilang dari muka bumi.

Kini semua bergantung pada keberhasilan upaya penyelamatan tersebut. Waktu terus berjalan, dan badak Kalimantan hanya menunggu, apakah ia akan diselamatkan, atau akan tinggal legenda dalam buku sejarah?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

53 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.