Terdampak Pelambatan Perekonomian Tiongkok, AMRO Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi ASEAN+3 pada 2023
📅 Rabu, 04 Okt 2023, 13:08 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak
JAKARTA - Kantor Penelitian Makroekonomi ASEAN+3 atau ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi ASEAN+3 pada 2023 menjadi 4,3 persen dari proyeksi sebelumnya 4,6 persen pada Juli 2023.
"Kawasan ASEAN+3 diperkirakan tumbuh sebesar 4,3 persen tahun ini, turun dari proyeksi pada Juli lalu 4,6 persen, terutama disebabkan oleh pertumbuhan Tiongkok yang lebih lemah dari perkiraan pada kuartal kedua," kata Kepala Ekonom AMRO Hoe Ee Khor dalam konferensi pers yang diikuti virtual di Jakarta, Rabu (4/10).
AMRO memproyeksikan kawasan ASEAN+3 akan berekspansi sebesar 4,5 persen pada 2024, seiring dengan semakin terwujudnya dampak dari langkah-langkah dukungan kebijakan Tiongkok untuk meningkatkan permintaan dalam negeri.
Hal tersebut seiring dengan peningkatan bertahap dalam konsumsi barang tahan lama di Amerika Serikat dan antisipasi pemulihan siklus teknologi global yang akan meningkatkan ekspor regional pada tahun depan di tengah perkiraan melemahnya perekonomian global.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Meskipun berita utama seputar kinerja ekonomi Tiongkok suram, kita harus melihat segala sesuatunya dalam perspektif," ujarnya.
Menurut Hoe, di luar sektor real estat, investasi manufaktur masih bertahan dan belanja konsumen mulai kembali ke jalurnya. Hal itu akan memberikan dampak positif bagi negara-negara ASEAN+3 lainnya.
Selain itu, AMRO mempertahankan perkiraan pertumbuhan tahun 2024 untuk kawasan ASEAN+3 dalam pembaruan triwulanan ASEAN+3 Regional Economic Outlook (AREO) Oktober 2023.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun prospek ekonomi global tahun depan kurang optimistis, pertumbuhan di kawasan tersebut akan didukung oleh perkiraan perbaikan ekspor manufaktur dan membaiknya momentum pertumbuhan di Tiongkok.
Inflasi di kawasan ASEAN+3 dengan tidak termasuk Laos dan Myanmar diperkirakan akan moderat menjadi 2,6 persen pada 2024, dari perkiraan tahun 2023 sebesar 2,9 persen.
Namun, kenaikan harga pangan dan energi global dalam beberapa bulan terakhir memicu kekhawatiran akan terjadinya lonjakan harga komoditas, dengan risiko inflasi yang lebih tinggi menjadi lebih besar.
"El Nino adalah faktor penentu inflasi, terutama jika hal ini menyebabkan kebijakan perdagangan yang lebih ketat terhadap impor pertanian utama seperti beras," tuturnya.
Dia mengatakan dampak harga komoditas terhadap inflasi ASEAN+3 akan lebih tajam jika penguatan dolar AS terhadap mata uang kawasan terus berlanjut.
AMRO juga memperingatkan agar tidak sepenuhnya mengabaikan risiko resesi di Amerika Serikat dan kawasan euro, terutama dalam kondisi di mana suku bunga global bisa tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!