Swiatek Ratu Tenis Tiga Permukaan Lapangan
📅 Senin, 14 Jul 2025, 07:14 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: Kirill KUDRYAVTSEV / AFP
LONDON — Petenis Polandia, Iga Swiatek, mencatatkan kemenangan paling dominan dalam sejarah final tunggal putri Wimbledon modern dengan mengalahkan Amanda Anisimova 6-0, 6-0 hanya dalam 57 menit, Minggu (13/7) dini hari WIB.
Kemenangan telak ini membawa Swiatek meraih gelar Grand Slam keenam sepanjang karirnya sekaligus trofi Wimbledon pertamanya. Kemenangan ini menjadikannya sebagai ratu tenis sejati di tiga permukaan lapangan.
Unggulan kedelapan petenis asal Polandia itu tampil tak terbendung, mematahkan servis lawan sejak gim pertama dan tak pernah menurunkan tempo permainan. Centre Court yang biasanya sakral dan penuh perlawanan menjadi saksi bisu kebrutalan Swiatek yang tak memberi ruang sedikit pun kepada Anisimova, unggulan ke-13 dari Amerika Serikat.
Kemenangan tanpa kehilangan gim di final Wimbledon merupakan yang pertama sejak Dorothea Lambert Chambers mencapainya pada tahun 1911, sebelum era Open dimulai. Di era modern, hanya Steffi Graf yang pernah melakukan hal serupa saat mengalahkan Natalia Zvereva di final Prancis Open 1988. “Rasanya seperti dunia mimpi. Saya tak pernah membayangkan bisa menjuarai Wimbledon. Lapangan Rumput selalu jadi tantangan bagi saya, tapi tahun ini segalanya terasa berbeda. Saya menikmati setiap momen dan merasa permainan saya telah tumbuh,” ujar Swiatek.
Swiatek kini menyamai capaian Serena Williams sebagai petenis aktif dengan rekor sempurna di enam final Grand Slam pertamanya. Empat gelar diraihnya di Prancis Open, satu di US Open, dan kini satu di Wimbledon, mengukuhkan dirinya sebagai ratu sejati di era baru tenis wanita. Laga final ini sejatinya diprediksi berlangsung ketat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Anisimova sebelumnya menyingkirkan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka di semifinal dan tampil penuh percaya diri. Namun begitu laga dimulai di bawah terik matahari London dan disaksikan langsung oleh Putri Wales dari Royal Box, tekanan tampak menghantamnya.
Dalam 25 menit pertama, Anisimova sudah kehilangan set pembuka dengan hanya mencetak enam poin dari servis dan melakukan 14 kesalahan sendiri.
Di set kedua, dominasi Swiatek tak berkurang. Penonton berusaha menyemangati Anisimova, namun Swiatek terlalu kokoh, bermain presisi, tenang, dan nyaris tanpa cela. Secara total, Anisimova membuat 28 unforced error dalam 12 gim. Seusai laga, dia meninggalkan lapangan sejenak sebelum kembali untuk upacara penyerahan trofi. Dengan mata sembab, dia menyebut Swiatek sebagai “pemain luar biasa” dan berjanji akan terus berjuang. ben/AFP/G-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!