Sulit Tingkatkan Daya Saing Jika “Hidden Cost” Ekonomi Tidak Dihapus
📅 Rabu, 27 Agu 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia mengingatkan Pemerintah agar serius memberantas ekonomi biaya tinggi yang selama ini jadi beban dalam perekonomian nasional. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (API) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Tim Apriyanto mengatakan selama persoalan biaya tersembunyi (hidden cost) tidak diselesaikan, daya saing Indonesia di tingkat global akan sulit ditingkatkan.
Hal itu disampaikan Tim menanggapi pernyataan Ketua Dewan Pengawas Indonesia Battery Corporation (IBC) Arsjad Rasjid, yang menekankan pentingnya penguatan daya saing Indonesia di tingkat global untuk memastikan pertumbuhan ekonomi inklusif.
“Saya sangat setuju dengan statement Pak Arsjad Rasjid, bahwa kuncinya adalah peningkatan daya saing di level global,” kata Tim di Yogyakarta, Selasa (26/8).
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan comparative advantage atau keunggulan komparatif seperti melimpahnya sumber daya alam. Hal yang lebih dibutuhkan adalah competitive advantage berbasis efisiensi, inovasi, dan kualitas.
“Kalau hanya mengandalkan comparative advantage, kita akan tertinggal, yang lebih penting adalah competitive advantage,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Upaya menuju keunggulan kompetitif tersebut diakuinya terhambat oleh praktik ekonomi biaya tinggi yang masih mengakar. Tim menyebut fenomena hidden cost sebagai momok yang menakutkan bagi dunia usaha.
“Ekonomi biaya tinggi itu atau hidden cost bisnis adalah siluman, hantu, bahkan iblis dari ekonomi. Ini yang harus diberantas kalau kita mau punya daya saing global,” tegasnya.
Dia pun memperingatkan ancaman jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) yang semakin nyata. Jika pemerintah tidak melakukan reformasi struktural dan memangkas biaya-biaya tak terlihat, Indonesia berisiko stagnan di kelas menengah.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Middle income trap itu nyata, dan kita bisa masuk ke dalamnya kalau tidak hati-hati,” kata Tim.
API DIY, katanya mendorong agar pemerintah fokus menciptakan iklim usaha yang transparan, sehat, dan efisien. Hal itu mencakup penyederhanaan birokrasi, konsistensi penegakan hukum, serta penyediaan infrastruktur yang menunjang aktivitas produksi dan distribusi.
“Kalau hal ini dibenahi, dunia usaha bisa bergerak lebih lincah dan kompetitif,” katanya.
Persoalan daya saing global pungkas Tim tidak bisa dilepaskan dari keberanian pemerintah melawan “iblis” ekonomi biaya tinggi. “Ini bukan sekadar wacana, tapi soal keberanian. Kalau Indonesia ingin menjadi negara maju, daya saing global harus ditopang oleh efisiensi dan keunggulan kompetitif,” pungkasnya.
Investasi Jangka Panjang
Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Rossanto Dwi Handoyo mengatakan, pemerintah perlu mendukung berbagai upaya inovasi penelitian untuk meningkatkan kapasitas daya saing, jika ingin mencapai target Indonesia Maju 2045. “Daya saing global adalah fondasi penting mendorong investasi jangka panjang, pertumbuhan ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat. Tanpa perbaikan nyata, Indonesia berisiko terjebak dalam middle-income trap atau stagnasi sebagai negara berpendapatan menengah,” kata Rossanto.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!